DAUN LONTAR

Teori Keagenan, Maximizing Shareholders (Life) Value dan Tri Hita Karana

Posted by I Wayan Agus Eka on January 15, 2012

Dalam sebuah entitas ekonomi (bahkan institusi publik sekalipun), manajemen (atau pemerintah) merupakan agen dari pemilik modal (rakyatnya) yang memiliki tugas utama untuk meningkatkan nilai mereka (maximizing shareholders value). Segala tindakan dari sebuah manajemen adalah dalam rangka meningkatkan nilai pemegang sahamnya. Inilah inti dari teori keagenan dalam berbagai literatur ekonomi. Dalam perkembangannya teori ini juga diadopsi pada ranah manajemen publik dengan melibatkan pemerintah sebagai agen dari rakyatnya.

Disadari ataupun tidak, teori ini juga berlaku dalam kehidupan ini. Kita semua adalah agen-agen bagi orang lain untuk meningkatkan nilai mereka dan disaat yang sama kita juga berposisi sebagai shareholder bagi mereka. Bedanya, dalam teori keagenan kehidupan shareholdernya bukanlah pemegang saham tapi semua hal di luar kita, yaitu orang tua, saudara, pasangan, anak, rekan kerja, bahkan makhluk hidup dan alam ini seluruhnya. Nilai yang dimaksimalkan juga bukan nilai saham namun nilai dalam arti luas antara lain kedewasaan, pencapaian, penerimaan, pengetahuan, penghargaan dan lain sebagainya.

Berbagi dan Pemaksimalan Nilai
Lalu bagaimana caranya meningkatkan nilai shareholders kita? Bertolak belakang dengan premis matematika dimana berbagi dimaknai sebagai pengurangan (minus), maka dalam teori keagenan kehidupan berbagi adalah cara paling efektif untuk meningkatkan nilai shareholders termasuk nilai kita sendiri sebagai shareholders bagi mereka di luar kita. Berbagi memang mengurangi pada saat kita melakukannya namun suatu saat jumlah yang kita terima akan berlipat-lipat. Selayaknya menabung yang mengurangi nilai uang di kantong kita, namun suatu saat kita dapat menikmati kembali uang tersebut bahkan dengan bunganya sekaligus.

Proses pemaksimalan
Bayangkan dua orang anak manusia berbeda jenis, sang lelaki dan sang wanita. Kita asumsikan mereka berdua memiliki masing-masing memiliki modal nilai sejumlah 10. Proses pernikahan dipercaya berbagai agama sebagai salah satu sarana untuk memaksimalkan nilai kedua orang ini.

Ketika mereka berpasangan, masing-masing bertindak sebagai agen dari pasangannya, mereka bersepakat untuk saling berbagi dengan menyerahkan sebagian modal nilai mereka kepada pasangannya. Mengapa sebagian? Karena sisanya mereka gunakan untuk kehidupan mereka masing-masing, untuk pekerjaan, orang tua, masyarakat, anak dan lain sebagainya. Proses berbagi antara kedua anak manusia berbeda jenis inilah yang nantinya akan memaksimalkan nilai mereka masing-masing sehingga bahkan akan mampu memperoleh nilai di atas modal mereka semula yaitu 10. Inilah yang dalam pepatah sering disebut dibalik laki-laki yang hebat terdapat wanita yang hebat dan sebaliknya di balik wanita yang hebat terdapat laki-laki yang juga hebat.

Lalu apakah selamanya akan terjadi proses pemaksimalan nilai dalam hubungan pasangan ini? Jawabannya tentu tidak. Setiap manusia pada dasarnya memiliki standar pengharapan masing-masing dari pasangannya. Misalnya dalam perumpamaan ini standar pengharapan si wanita adalah 6, namun sang laki-laki hanya bisa memberikan 5 saja karena selebihnya dia gunakan untuk pekerjaan kantornya, adiknya, bisnisnya, orang tuanya dst. Apabila si wanita tidak mau menerima nilai yang dibawah standarnya maka alih-alih akan terjadi pemaksimalan nilai yang terjadi justru akan mengurangi nilai masing-masing karena energi mereka berdua terkuras untuk konflik dan pertentangan. Lalu bagaimana cara mengatasinya? Tidak ada cara lain selain yang disebut dengan pengertian, selisih sejumlah 1 (6-5) antara standar pengharapan sang wanita dengan nilai yang dia dapat dari pasangannya adalah apa yang disebut dengan pengertian dan penerimaan.

Secara teori, apa yang diilustrasikan di atas sangat simpel dan sederhana sehingga terkesan sangat gampang untuk dilaksanakan, namun pada prakteknya tidak semudah itu. Pertentangan selalu akan terjadi, tawar menawar selalu akan sengit untuk menuju titik temu yang dalam istilah ekonomi disebut harga.

Contoh di atas hanya merupakan gambaran sederhana bagaimana proses pemaksimalan nilai seseorang yang terbentuk dalam hubungan antara sepasang anak manusia. Proses lainnya juga berlaku untuk pola hubungan yang lain seperti hubungan keluarga, hubungan rekan kerja di kantor bahkan hubungan kita dengan Tuhan dan lingkungan sekitar. Bukan sebuah kebetulan pula apabila pola hubungan (keagenan) ini dalam konsep tradisional Hindu sering disebut dengan Tri Hita Karana, sebuah konsep yang menyebutkan bahwa keseimbangan semesta terbangun dari keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia dan manusia dengan alamnya.

Semoga kita semua mampu menjadi agen-agen yang akan memaksimalkan nilai shareholders kita.

Posted in Daily Notes | 2 Comments »

Ketika Orang Mabuk Bukan Karena Miras

Posted by I Wayan Agus Eka on January 14, 2012

“ahh..elo lagi elo lagi” gumam saya ketika mata ini dipertontonkan adegan kekerasan layak sensor. Niatnya sih mulia, ingin memperjuangkan supaya perda miras tidak dicabut. Tapi apa gunanya niat yang mulia ketika diejawantahkan dalam lemparan batu dan ayunan tongkat kayu.

Tidak hanya sekali ini saja, catatan sejarah menunjukkan perilaku yang sama sudah sangat sering diperagakan, lalu apa gunanya ilmu Ilahi yang dikuasai kalau semuanya berujung anarkisme. Sejarah masa lalu sudah banyak memberikan gambaran kalau perjuangan dengan kekerasan hanya akan menyisakan pihak yang kalah, tidak ada yang menang. Namun sebaliknya, perjuangan dengan mengandalkan diplomasi dan kekuatan rasa atau pikiran sudah banyak terbukti keberhasilannya, lihatlah India dengan Gandhi, lihatlah Aceh dengan JK.

Pikiran bodoh saya sering bercanda kepada saya, kalau seperti ini mungkin lebih baik miras dibiarkan saja beredar dengan bebas, kalau orang sudah mabuk palingan dia hanya teriak-teriak ga jelas, jalan terhuyung huyung lalu rebah menghujam tanah, tinggal keesokan harinya diguyur air saja daripada mereka yang anti miras (dan logikanya tidak pernah mabuk) tetapi merusak dan mengancam orang lain. Saya menjadi heran, kalau sudah seperti ini siapa yang sebenarnya lagi mabuk???

Kata Bang Haji, miras memang memabukkan, tetapi nafsu merusak ternyata lebih dahsyat memabukkannya daripada miras. Kalau sudah seperti ini, Bang Haji sepertinya harus mengubah lirik lagunya.

Posted in Daily Notes | Leave a Comment »

Ketika kesendirian dan kebersamaan sama-sama menjadi sebuah kebutuhan

Posted by I Wayan Agus Eka on October 1, 2011

Saya termasuk orang yang berkesimpulan kalau bersosialisasi, bergaul, berkomunikasi dan berhubungan merupakan kebutuhan wajib bagi seorang manusia. Keseharian kita dilewati dengan mencari dan memperbanyak teman, sahabat, klien dan seterusnya. Bahkan dengan banyaknya social media dewasa ini, kendala jarak dan waktu untuk memperbanyak teman tidak menjadi masalah lagi.

Begitu pula saya, seorang pegawai yang setiap hari berkutat dengan rekan-rekan kantor, menyelesaikan laporan yang ibarat laut tak bertepi, berinteraksi dengan atasan, berkeluh kesah dengan pasangan dan keluarga dan seterusnya. Berbagai macam interaksi tadi memberikan pelajaran tentang makna menghargai hubungan dengan sesama.

Namun, entah kenapa saya sangat menikmati sedikit menit waktu yang ada untuk sendiri. Tidak terlalu lama yang saya habiskan, karena memang saya hanya membutuhkannya sebentar saja.

Saya biasa melakukannya di perjalanan pulang dari kantor. Dari dalam helm, sambil mengendarai sepeda motor, saya bisa mendengar dengan jelas setiap ucapan yang keluar dari mulut saya. Saya sering mengutarakan ide,pendapat,gagasan,apapun itu dengan ngomong di helm tadi. Mulai dari mengomentari budayawan yang sudah tidak laku dan alih profesi menjadi komentator politik, sampai mengucapkan doa ketika melihat seorang pria mendorong motornya yang pecah ban, semoga segera menjumpai tukang tambal ban.

Bagi saya waktu kesendirian tersebut adalah salah satu sesi kuliah untuk lebih memaknai hidup ini dan mensyukurinya. Lebih dari itu, waktu favorit saya yang lain adalah ketika naik bus pergi ke luar kota. Di perjalanan saya bisa merenung, melihat lampu-lampu jalan yang bergerak cepat meninggalkan kita, melihat wajah orang-orang dengan berbagai macam ekspresinya bahkan ngeblog dari hp (saya menulis ini ketika perjalanan ke bandung).

Dengan speaker menempel di telinga, dan channel radio memutar lagu yang kadang saya ga kenali, pikiran ini terus menjelajah ke alam yang tidak terbatas, antara nyata dan maya. Seringkali pikiran liar bin aneh muncul tiba-tiba, mulai dari ide untuk mencabut subsidi bbm seketika jika saya jadi presiden, mengusir freeport dari republik ini, impian untuk sekolah, bahkan sampai memaknai kematian.

Disinilah kemudian saya berkesimpulan bahwa kesendirian juga merupakan kebutuhan bagi setiap orang. Manusia pada hakikatnya memang tidak bisa hidup sendiri, tapi manusia tetaplah seorang individu. Tidak akan ada orang yang benar-benar bisa memahami pemikiran seseorang 100 persen, bahkan oleh pasangannya sendiri, karena pemikiran itu bebas, liar, dan tak terbatas. Yang bisa dilakukan orang di luar kita hanya memahami dan mengerti, ya, hanya sebuah pengertian ke diri ini.

Kesendirian memberikan saya ruang untuk berdialog dengan “sang diri”. Suaranya yang seringkali terkalahkan dengan kebisingan kehidupan dan teriakan permasalahan hidup. “Sang diri” juga butuh didengar dan hanya kitalah yang mampu mendengarnya, bukan dengan telinga tapi dengan rasa. Dia adalah sayup-sayup akan terdengar ketika kita meluangkan waktu sedikit untuknya. Dan bahkan, dialah yang sebenarnya setiap detik meneriaki kita dengan nasihat dan kejernihan.

Inilah saya dengan kebersamaan saya sekaligus kesendirian saya dengan “diri” ini. Bagaimana dengan anda?

Posted in Daily Notes | 3 Comments »

Merdeka*

Posted by I Wayan Agus Eka on August 17, 2011

*syarat dan ketentuan berlaku

 

Kalau kita menanyakan kepada masyarakat apakah kita sudah merdeka saya meyakini jawabannya adalah belum. Tokoh-tokoh masyarakat, politisi, pengusaha, kaum terpelajar sepertinya sepakat bahwa bangsa ini belum merdeka sama sekali. Alasan yang dikemukakan sederhana, kita belum berhasil mencapai cita-cita bangsa sebagaimana diamanatkan dalam paragraf terakhir pembukaan UUD 1945. Bangsa ini belum mampu mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya, belum mampu mencerdaskan seluruh lapisan masyarakatnya dan belum mampu melindungi seluruh warga negaranya. Sederet kalimat terakhir inilah yang menyimpulkan bahwa merdeka hanya dicapai jika syarat dan ketentuan tersebut terpenuhi.

Ijinkan saya untuk berbeda pandangan dengan pemikiran mainstream tersebut. Saya, dalam berbagai kesempatan terutama ketika bulan kemerdekaan tiba seringkali merenung, kapan sebuah bangsa dikatakan makmur? kapan sebuah bangsa disebut cerdas? kapan sebuah bangsa dianggap melindungi seluruh rakyatnya. Apakah ketika tidak ada kemiskinan atau kebodohan kita dapat dikatakan mencapai cita-cita kita? lalu kapan kemiskinan dan kebodohan itu benar-benar lenyap? apakah ketika seluruh rakyat memiliki penghasilan di atas 5 juta sebulan atau ketika seluruh rakyat minimal berpendidikan SMA? dan kalimat-kalimat menyangkut definisi makmur, cerdas, miskin, dll terus-menerus berlari dalam pikiran ini.

Saya lalu mengambil contoh negara lain, coba tunjuk satu negara di dunia ini yang menurut anda sudah sejahtera, cerdas dan melindungi warganya. Kita ambil saja Amerika Serikat, benarkah rakyat Amerika sudah sejahtera, cerdas dan melindungi semua bangsanya? pernahkah terlintas dalam pikiran kita bahwa ada sebuah sekolah disana yang rusak dan hanya berjarak beberapa blok dari White House? Atau mengenai kemiskinan yang dialami kaum Africa-America disana?

Pikiran saya terus berputar untuk menemukan kondisi yang dicapai suatu negara sehingga kita pantas untuk mengatakannya sejahtera, cerdas dan melindungi rakyatnya. Namun semakin keras otak ini berputar, semakin sulit untuk menemukannya, bahkan untuk mengimajinasikannya pun saya tidak sanggup.

Bertolak dari kemustahilan untuk mendefinisikannya itu, saya tidak akan menyimpulkan bahwa cita-cita kita adalah mustahil namun saya justru akan mengubah cara pandang saya mengenai arti dari kemerdekaan itu sendiri. Saya tidak lagi mendefinisikan kemerdekaan sebagai sebuah hasil yang ingin kita capai, tidak lagi mendefinisikan kemerdekaan sebagai sejahtera atau cerdas, namun saya mendefinisikan kemerdekaan sebagai sebuah proses. Kita semua “merdeka” untuk melakukan segala upaya yang terbaik di bidang kita masing-masing untuk mencapai apa yang disebut dalam alinea ke-4 pembukaan UUD 45, kita semua “merdeka” untuk berusaha sekuat tenaga mencapai kesejahteraan dan kemandirian bangsa.

Inilah arti merdeka bagi saya, dan ketika saya mendefinisikan merdeka dengan seperti ini maka saat ini juga saya mengatakan bahwa kita semua sudah merdeka. Dan ijinkan saya kemudian untuk menghapus tanda (*) pada judul artikel ini karena saya dan anda semua telah merdeka, ya telah merdeka tanpa syarat apapun. Merdeka

I Wayan Agus Eka

 

Posted in Daily Notes | Leave a Comment »

Jangan Hapuskan Soal Ujian Itu

Posted by I Wayan Agus Eka on July 31, 2011

Tersebutlah dua keluarga yang memiliki anak masing-masing Angga dan Bayu. Keduanya tahun ini genap berusia 18 tahun dan akan melalui tahun pertamanya di perguruan tinggi.

Orang tua mereka sangat bangga dengan anak-anaknya, semua perlengkapan kuliah dibelikannya, bahkan sampai mainan PS3, gadget ipad, smarthphone, mobil dan lain sebagainya.

Perlakuan kedua orang tua mereka pada anaknya sebenarnya sama kecuali satu hal ketika anak-anaknya akan menghadapi ujian di kampusnya. “Selama kamu UTS dua minggu mendatang, handphone, PS, Ipad, televisi di kamarmu, mobil dan barang-barang lainnya bapak sita supaya kamu fokus. Bapak tidak mau kamu menghabiskan waktumu dengan semua barang-barang tadi dan mengganggu waktu kamu belajar.” begitulah bapak si angga berkata pada anaknya.

Namun lain halnya dengan ortu angga, bapak si bayu berujar “Nak, kamu sudah dewasa, sudah mengerti mana yang baik mana yang buruk, sudah bukan saatnya lagi Bapak menyita barang-barangmu seperti dulu ketika kamu hendak ujian. Semua Bapak serahkan padamu, kamulah yang memutuskan. 2 minggu ke depan kamu tidak hanya akan menghadapi ujian di kampusmu, tapi kamu juga akan diuji tingkat kesabaran dan kedewasaanmu. Kalau bapak menyita barang-barangmu seperti dahulu kamu tidak akan pernah mengalami ujian melawan hawa nafsumu karena bapak sudah menyingkirkan sang soal terlebih dahulu sebelum lonceng pertanda ujian dimulai berdentang dan alhasil bapak tidak akan pernah melihat anak kebanggaan bapak naik kelas dan lulus.”

Posted in Daily Notes | Leave a Comment »

Selamatkan bali: Dan Konflik Laten Itupun Pecah

Posted by I Wayan Agus Eka on July 30, 2011

Hati ini terhenyak ketika mendengar luapan amarah manusia menyeruak di salah satu sudut pulau yang selama ini dikenal damai dan tenang. Darah membasuh tanah dewata seolah ‘caru’ pembersih bhuwana. Mengapa?

Peristiwa ini menegasikan pandangan masyarakat dunia bahwa bali itu tumbuh dengan manusia yang ramah,baik,hening dan sebutan sejenis lainnya. Jauh sebelum peristiwa ini terjadi saya sebagai warga asli bali menarik kesimpulan bahwa sebenarnya masyarakat bali adalah manusia yang keras dan sangat gampang tersulut konflik. Tipikal masyarakatnya umumnya pendendam namun sangat pintar menutupi penampakan di luarannya meskipun jauh di lubuk hatinya rasa kecewa, marah dan dendam itu masih terpelihara ibarat sekam yang sedang menunggu bensin untuk meledak.

Namun mengapa selama ini sangat jarang terdengar konflik di bali? industri pariwisatalah yang telah membuat konflik-konflik tadi menjadi sekam dan tertutupi abu. Teori dasarnya sederhana, ibarat orang yang jika kelaparan bahkan senyuman orang lain pun bisa menyulut kemarahan, namun jika perutnya sudah kenyang dia akan ngantuk kemudian tertidur pulas.

Tidak usah terlalu jauh untuk menarik sejarah, kita ambil peristiwa Gestok saja pada tahun 1965. Saat itu bali menjadi salah satu ladang pembantaian orang-orang yang dituduh pki. Bukan dibunuh oleh orang lain, namun pembantaian dilakukan oleh nyame (sesama) orang bali sendiri.

Setelah peristiwa itu bali justru tidak bergejolak, tenang, tidak ada pergolakan atau balas dendam, seolah-olah tidak ada peristiwa berdarah yang dilakukan saudara sendiri sebelumnya. Setelah peristiwa itu, pada awal tahun 70an, pariwisata bali mulai menggeliat, masyarakatnya mulai disibukkan dengan terlibat dalam “revolusi industri pariwisata”. Industri ini menghinoptis masyarakat bali untuk menggerakkan seluruh anggota tubuhnya dan mencurahkan waktunya mengejar dolar dan kenikmatan menyerupai surga di pulau yang kemudian terkenal sebagai surga terakhir.

Semuanya adalah masalah duniawi, ketika kemakmuran saat itu bukan lagi mustahil bagi masyarakat bali maka dia menjadi abu yang terus-menerus menutupi sekam kelam masa lalu yang sangat hitam. Terlebih lagi secara niskala (alam gaib) telah dilakukan pecaruan agung di seluruh pulau bali setelah tragedi itu. Pecaruan yang bermakna pembersihan atas semua kekotoran yang diakibatkan tragedi ini kemudian bermakna penghapusan terhadap memori-memori kekerasan di masa lampau.

Lalu hilangkah rasa dendam itu dari masyarakat bali? Tidak, sama sekali tidak, dia hanya bersembunyi di celah-celah hati yang sangat sempit. Beberapa peristiwa kekerasan yang terjadi di bali beberapa tahun terakhir sedikit banyak memilki kaitan dengan dendam masa lalu tersebut.

Tragedi gestok yang diuraikan tadi hanyalah salah satu sumber konflik laten di bali. Kalau mau menarik lebih jauh lagi, konflik laten mungkin juga bersumber ketika jaman kerajaan-kerajaan di bali yang saling berebut kekuasaan wilayah dan ekonomi, hal ini sekarang mungkin menyisakan warisan ketika misalnya ada satu desa yang dari dulu tidak pernah akur dengan desa lainnya.

Apapun itu penyebabnya, saya sebagai putra asli bali sangat prihatin dengan peristiwa di bangli ini. Melupakan dendam masa lalu bukanlah berarti kita ‘alpaka’ terhadap leluhur, tapi justru mewarisi perdamaian bagi anak cucu kita kelak. Damailah baliku

Posted in Selamatkan Bali | Leave a Comment »

Selamatkan Bali: Bandara oh Bandara

Posted by I Wayan Agus Eka on May 14, 2011

Saya tidak habis pikir bagaimana petinggi-petinggi itu ketika melontarkan rencana pembangunan bandara internasional di bali utara. Pikiran ini terus berusaha menyelami dan berempati pada pikiran mereka-mereka itu,namun tetap saja tidak menyimpul di titik tertentu.

Dalih bahwa hal ini dapat meratakan pembangunan bali selatan dan bali utara saya rasa tidak relevan. Memang keberadaan bandara ngurah rai tidak terbantahkan telah mampu meningkatkan perekonomian di bali selatan melalui pariwisatanya. Namun satu hal yang perlu diingat bahwa bali utara memiliki kondisi yg berbeda dengan bali selatan. Bali utara bukanlah daerah yg memiliki destinasi wisata yang unggul dibandingkan dengan bali selatan, sehingga upaya untuk meratakan pembangunan bali utara bukanlah dilakukan dengan membangun bandara namun dengan program-program lainnya.

Terlebih lagi rencana pembangunan bandara ini akan diikuti pula dengan pembangunan jalan tol sebagai akses ke bali selatan. Hal ini justru bertentangan dengan tujuan semula untuk pemerataan,karena keberadaan jalan tol akan menggeser sumber-sumber perekonomian dari bali utara ke selatan.

Dampak lainnya yang harus lebih diperhitungkan dan menurut saya sangat penting adalah dampak lingkungan. Berapa banyak nantinya lahan yang semula adalah hutan atau sawah akan beralih fungsi menjadi bandara dan jalan. Berapa banyak nantinya sumber-sumber air akan menjadi kering karenanya.

Saya pribadi sudah berada pada suatu titik dan berkesimpulan bahwa tanah kelahiran saya ini sudah jenuh dengan semua ‘siksaan’ manusia di atasnya dan bandara ini bukanlah “tamba” dari semua ini.

Semoga semuanya berbahagia.

I Wayan Agus Eka

Posted in Selamatkan Bali | 3 Comments »

Saraswati: Saatnya Mengenal Diri

Posted by I Wayan Agus Eka on April 23, 2011

Momen hari raya Saraswati selalu membawa saya kembali ke masa kecil ketika memaknai hari ini sebagai hari ke sekolah dengan memakai pakaian sembahyang, membawa banten dan tidak boleh membaca buku seharian. Bagi yang bekerja, hari ini pula dimaknai sebagai hari untuk menghaturkan bakti di tempat mereka bekerja masing-masing, apalagi bagi pegawai negeri yang umumnya mengadakan persembahyangan bersama di padmasana tempat mereka bekerja.

Ritual di atas menandakan bahwa saraswati identik dengan tempat di mana sumber-sumber pengetahuan itu didapatkan. Sekolah adalah simbol sumber pengetahuan bagi anak-anak SD, SMP, SMA, sementara perguruan tinggi adalah bagi mereka yang mahasiswa serta kantor adalah bagi mereka yang sudah bekerja. Di tempat-tempat inilah kita semua mendapatkan ilmu yang memberikan kita pengetahuan dari seseorang yang “kosong” menjadi “berisi”.

Kita mengidentikkan tempat-tempat ini sebagai sumber ilmu karena umumnya kita mendefinisikan ilmu sebagai sesuatu yang harfiah. Matematika yang kita dapatkan di sekolah bagi kita adalah ilmu karena membuat kita mengetahui bagaimana cara menghitung luas, perkalian, pembagian dll. Bahasa Indonesia kita pandang sebagai ilmu karena membuat kita mampu menguasai sarana komunikasi selain bahasa ibu kita dan seterusnya.

Singkat kata definisi ilmu itu umumnya bermakna ke luar, bermakna bahwa kita mencari sesuatu di luar diri kita yang tidak kita ketahui sehingga dengan mendatangi sekolah maupun perguruan tinggi maka tempat itu akan membuat kita menguasai ilmu tersebut. Tanpa kita sadari, sedari kecil kita terlalu disibukkan dengan kegiatan mencari ilmu “luar” ini sehingga sadar ataupun tidak kita lupa untuk mempelajari diri kita sendiri.

Ya, diri ini juga merupakan sumber ilmu yang harus dipelajari. Tempatnya bukan di sekolah maupun di perguruan tinggi namun di setiap jengkal bumi ini adalah “sekolah” untuk mempelajari ilmu ini. Gurunya bukan guru waktu kita SD maupun dosen, namun gurunya adalah setiap umat manusia yang ada di dunia ini. Setiap manusia baik yang berinteraksi langsung dengan kita maupun tidak bagai sebuah cermin yang membantu untuk melihat diri ini sebenarnya, membantu kita mengenali sifat kita sebenarnya dan memperbaiki kekurangan dalam diri ini, membantu mengenali kelebihan diri ini untuk kemudian menularkan ilmu kelebihan ini kepada sesama.

6 tahun di sekolah dasar, 6 tahun di smp dan sma, 5 tahun di perguruan tinggi, jadi sudah total sekitar17 tahun saya habiskan untuk mencari ilmu di luar diri ini, mungkin hanya secuil di antara periode waktu tersebut yang saya gunakan untuk mencari ilmu di dalam diri ini. Semoga sisa waktu yang ada masih cukup bagi saya dan kita semua untuk mengenal diri ini sehingga ketika suatu saat kita lulus, kita semua mampu menularkannya kepada seluruh umat manusia sama halnya ketika Saraswati menurunkan ilmu kepada umat manusia, dan ketika masa itu tiba maka setiap detik adalah perayaan turunnya ilmu pengetahuan.

Rahajeng rahina Saraswati, dumogi rahayu kepanggih sareng sinamian

I Wayan Agus Eka

Posted in Daily Notes | 2 Comments »

Ujian Ikhlas-Sebuah Remidi

Posted by I Wayan Agus Eka on February 20, 2011

Hari ini kembali aku diuji akan suatu hal yang sama. Iya, aku memakai bahasa “kembali” karena ini sudah berulang-ulang terjadi di periode nafas ini. Meskipun sudah berulang namun masih saja soal ujian kali ini terasa sangat susah, bahkan mungkin paling susah. Ga cukup sebuah persiapan matang untuk menyambutnya apalagi hanya sekedar kristal-kristal yang membuncah untuk mendinginkannya.

Ya, kembali aku ujian yang namanya ikhlas. Ujian keikhlasan atas sebuah objek yang sama berkali-kali dan terus mengulang-ulang. Tuhan mungkin sayang sama aku sehingga dia uji aku terus-menerus, tapi saking sayangnya mungkin Tuhan ingin aku tetap di kelas ini sehingga Dia tetap bisa melihatku terus-menerus, entahlah.

Meskipun sudah kali ke sekian, perasaan tegang tetap ada, tangan gemetaran, badan panas dingin, nafsu makan berkurang, persis kondisi ketika seorang mahasiswa akan menghadapi ujian akhirnya. Dan benar saja, ketika soal sudah dibagikan, mata ini tiba-tiba menjadi gelap, tanganpun tak henti-hentinya mengurut dada, sabarr..sabarr, begitu gumamku dalam hati.

Kalau pada ujian sebelumnya aku dengan mudah bisa menebak jawabannya, namun kali ini sungguh di luar dugaan. Apa yang aku sangka sebagai jawaban justru bukanlah jawaban, aku terjebak, iya, aku terjebak dalam permainan Sang Penguji. Dia begitu pandai membuat soal yang seolah-olah gampang aku jawab, namun di balik itu semua ada lubang menganga yang tertutup rumput yang siap menjatuhkan aku ke tempat terdalam, seperti sebuah batu yang pada awalnya dilemparkan sekuat tenaga ke langit dan begitu sampai puncak tertinggi akan terhempas ke bumi dengan benturan yang sangat dahsyat, sakit, iya sakit sekali.

Mungkin di ujian sebelumnya aku belum lulus sepenuhnya sehingga aku harus menjalani remidi ini. Sang Penguji artinya masih berbaik hati memberi kesempatan kembali untuk mengulang mata kuliah ini, dia tidak langsung men-DO aku sebagaimana mahasiswa-mahasiswa lainnya. Apakah kali ini aku akan lulus??? awighnam astu

I Wayan Agus Eka

Posted in Daily Notes | 2 Comments »

Anak itu bernama Siwa

Posted by I Wayan Agus Eka on February 19, 2011

Hari ini seperti sabtu pada minggu-minggu sebelumnya adalah saat untuk bangun agak siang, maklum selama 5 hari harus bangun pagi, jadi merasa berhak untuk bangun siang di hari sabtu, hehehehe…Tapi ketika bangun tiba-tiba langsung ada keinginan untuk tangkil sembahyang ke gunung salak, sebuah keinginan yang sebenarnya tertunda-tunda terus dengan berbagai macam alasannya. Tas ransel pun disiapkan, pakaian sembahyang dimasukkan, tidak ketinggalan satu buah buku buat bahan bacaan nanti disana.

Setelah menempuh perjalanan naik motor sekitar 2 jam dengan sekali beristirahat di bogor buat minum dan cuci muka, akhirnya tiba juga di parahyangan agung jagatkarta. Bergegas kemudian mengganti pakaian dan menuju pelataran pura untuk sembahyang. Cuacanya cukup sejuk meski nyampe sana pas jam 12 siang sehingga sembahyang bisa lebih kusyuk dan pikiranpun menjadi lebih tenang.

Selesai sembahyang seperti kebiasaan yang sudah-sudah, saya menuju ke sisi luar pura, duduk di sebuah balai kecil. Buku yang saya bawa pun saya keluarkan dan kemudian mulai membuka halamannya satu persatu. Di seberang sana kemudian muncul seorang anak laki-laki berpakaian adat sembahyang yang saya sudah tahu namanya Dharma, dia kemudian berjalan ke arah saya.

“Dik, biasanya kamu kan jualan peyek kan, skrg kok ga bawa?” tanya saya membuka obrolan

“Bawa kok kak, bentar ya.”

Bergegas dia memanggil sang adik yang juga saya sudah tahu namanya siwa

“nama kamu siwa kan dik?”

“iya kak.”

“berapa satu kripiknya?”

“lima ribu”

“kasi saya dua ya”

saya serahkan uangnya ke dia, dan kemudian mulailah saya memakan kripik itu untuk mengganjal perut karena kelupaan membawa makan siang, gpp lah, ga ada nasi kripikpun jadi. Dan, percakapan itupun dimulai

“kelas berapa dik” tanya saya

“satu smp”

“trus kakakmu kelas berapa?”

“kelas 5 sd”

ternyata meskipun berstatus sang kakak, tp kakaknya ternyata sangat disayang gurunya sehingga ga dikasi naik kelas, hehehehe, kidding

“trus skrg ga sekolah?”

“ga kak, tadi telat bangun.”

“kamu tiap hari jualan disini”

“iya”

“bawa berapa bungkus biasanya?”

“20 bungkus”

“trus, abis ga biasanya”

“kadang-kadang sih kak”

“trus, hari ini sudah laku berapa”

“dua kak”

jadi hari ini saya adalah pembeli pertamanya, kasian.

“aku itu 6 sodara kak, adikku yang paling kecil baru 4 bulan” tanpa saya tanya dia bercerita

“trus orang tua kerjanya apa”

“ya buat kue-kue aja”

“ga ada nanem-nanem apa gitu di rumah”

“nanem?lha itu tanah siapa kak!!!”

dia sekeluarga tinggal di sebuah gubug kecil yang kelihatan jelas di pinggir sebuah jembatan di jalan menuju pura. Saya langsung teringat ketika saya dulu beberapa kali melewati rumahnya setelah selesai sembahyang, di sana biasanya sang ayah ada di pinggir jalan kemudian mengatupkan tangannya seraya mengucapkan terima kasih dan selamat jalan kepada setiap umat yang sembahyang disana.

Dari seorang teman saya sedikit mengetahui kisah keluarga mereka. Mereka dahulu sebenarnya hidup berkecukupan, namun karena suatu sebab yang sayapun tidak mengetahuinya mereka kehilangan semuanya dan kemudian tinggal di tempat sekarang selama 4 tahun terakhir.

Obrolan saya dengan siwa pun berlanjut ke kegiatan dia sehari-hari. Saya pun tahu kalau uang sakunya tiap hari 5 ribu itupun harus dipotong 4 ribu untuk sewa angkot, uang spp nya 35 ribu sebulan.

Satu hal yang berkesan dari si anak bernama siwa itu adalah, di balik apa yang sering kita sebut sebagai kekurangan dia memiliki apa yang seringkali tidak kita punyai disaat kita menyebut diri kita berkecukupan. Di usianya yang masih belasan dia sudah hidup di dua periode kehidupan, dia pernah sangat berkecukupan dan skrg dia dalam keterbatasan. Namun di saat dia dan keluarganya hidup di fase terbawah seperti sekarang dia tidak kehilangan senyum, kegembiraan, kesenangan dan yang terpenting dia tidak kehilangan rasa berkecukupan atau syukur.

Di saat terpuruk tapi tetap bersyukur, ya itulah siwa, seorang anak kecil yang hari ini menemani saya hari ini dan mengisi ruang-ruang spiritual di dalam diri saya. Suksma

I Wayan Agus Eka

Posted in Daily Notes | 2 Comments »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.