DAUN LONTAR

Sisi Lain Korupsi

Posted by I Wayan Agus Eka on April 12, 2014

Saya termasuk golongan orang yang percaya bahwa setiap orang itu defaultnya adalah baik kecuali terbukti sebaliknya. Terkait dengan korupsi selama ini yang ada di benak kita pasti muncul bayangan seseorang yang memperkaya dirinya atau orang lain dengan mengambil kekayaan negara yang bukan haknya. Tidak ada yang salah memang dengan pemahaman atau definisi ini, namun ijinkan saya menggambarkan sisi lain sebuah tindakan yang selama ini kita hujat.

Ulasan media, pengamat, politikus dan yang lainnya sudah menanamkan di benak kita bahwa penyebab korupsi pada hakikatnya adalah keserakahan. Saya tidak akan menegasikan hal tersebut karena memang itu benar adanya. Namun ketika saya mencoba mengamati lebih mendalam benarkah hanya keserakahan duniawi yang mendorong korupsi? apakah semua tertuduh koruptor itu semuanya serakah? saya rasa di antara tertuduh tersebut masih ada orang-orang baik yang “terjebak” dalam definisi korupsi yang kita bentuk selama ini.

Menurut saya, sisi lain sebuah korupsi bisa digambarkan sebagai bentuk kegagalan sistem ekonomi kita dalam membagi kue ekonomi yang ada. Kue ekonomi Indonesia memang tumbuh pesat pasca reformasi namun di sisi lain kue ekonomi itu hanya dinikmati oleh segelintir orang saja. Dalam bahasa sederhananya yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Lalu apa hubungannya dengan korupsi? Mereka yang melakukan korupsi ini secara sadar ataupun tidak sadar telah memposisikan diri sebagai alat redistribusi pendapatan. Tidaklah jarang kita mendengar di media bahwa uang korupsi berakhir sebagai sumbangan di tempat ibadah, menjadi bantuan untuk calon ibu yang kesulitan dana untuk melahirkan ataupun berakhir di yayasan yatim piatu. Mereka, sadar atau tidak, bertindak selayaknya Robin Hood dalam dongeng masyarakat Inggris atau si Pitung ketika jaman penjajahan dahulu. Apakah salah? tergantung cara kita melihat. Kalau secara hukum jelas ini salah, namun kalau secara moral hal ini bisa kita perdebatkan.

Lalu apa pentingnya kita mengetahui sisi lain korupsi ini? mengetahui korupsi sebagai salah satu permasalahan pembagian kue ekonomi mengisyaratkan kepada Pemerintah bahwa instrumen-instrumen redistribusi pendapatan seperti pajak dll. selama ini relatif gagal dalam mewujudkan pemerataan. Sehingga, upaya-upaya pemberantasan korupsi secara komprehensif seharusnya tidak hanya akan bersandar pada upaya-upaya konvensional saja seperti memperkuat KPK, memperberat hukuman, penyadapan, perbaikan regulasi dll, namun juga harus disertai dengan meninjau dan mengevaluasi kembali concern kita terhadap upaya menanggulangi disparitas antara si kaya dan si miskin di Indonesia. Dan inilah yang selama ini saya kira luput dari perbincangan kita ketika memperdebatkan bagaimana cara memberantas korupsi di negeri ini.

 

I Wayan Agus Eka

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Mereklamasi Bali, Menguruk Budaya

Posted by I Wayan Agus Eka on July 17, 2013

Pertama kali saya mendengar rencana reklamasi di Benoa kira-kira sebulan lalu. Sekali waktu saya sempatkan diri mengikuti perkembangannya dan terakhir saya membaca sebuah artikel di situs the jakarta post http://www.thejakartapost.com/bali-daily/2013-07-10/pastika-says-benoa-bay-plan-bring-prosperity.html.

Mari sejenak kita uraikan apa yang disajikan dalam berita itu dan dengan sedikit pengetahuan tentang googling mari kita bandingkan apakah ada keselarasan dan benang merah dari apa yang disajikan dalam berita itu.

1. Artikel tersebut mengungkapkan bahwa:

“Regarding his own moratorium on tourist facility developments in southern Bali, Pastika said the condition had changed now. We are facing a shortage of hotel rooms. This can be seen from the rapid growth of accommodation construction as investors identify business opportunities,” explained Pastika”

Loh, kondisi mana yang berubah pak? siapa bilang ada shortage of hotel rooms?? mari kita baca artikel berikut http://www.phribali.or.id/news/tingkat-hunian-hotel-di-bali-menurun-perlu-promosi-bersama.htm .Data menunjukkan bahwa pada tahun 2012 (tahun lalu lho) tingkat hunian hotel berbintang hanya 50% sementara untuk hotel non berbintang 30% dan length of stay hanya 2,9 hari saja, bandingkan dengan dulu yang bisa 10-14 hari. Hal ini disebabkan karena jumlah hotel yang terlalu banyak.

Kalau masih ragu silakan saja googling sendiri dengan menggunakan keyword “oversupply hotel in bali” niscaya bakalan banyak artikel dan data yang bisa kita baca.

2. Di artikel itu juga diungkapkan:

“You can imagine thousands of people will be working on the project if it is approved. The project will certainly bring prosperity, employment opportunities and improve people’s welfare. This project will also enhance Bali’s status internationally,” explained Pastika on Tuesday, ignoring protests from the local tourist industry, academics and environmentalists.”

Ya bener sih pak bakalan ada lapangan kerja baru, bakalan ada kenaikan kesejahteraan, tapi saya yakin-seyakin yakinnya kalau krama Bali bakal bekerja yang judulnya ada boy-boy nya, ya kalo ga office boy ya room boy. Jangan hanya dilihat manisnya aja donk pak, liat paitnya. Mungkin si Bapak amnesia ya, ya udah kalo gitu tak ingetin. Pak, dulu waktu bikin jalan ke pulau serangan itu berakibat abrasi di Pantai Sanur dan Pantai Lebih. Ya kalau masih ga percaya ini ada video yang kebetulan saya dapet di you tube.

Karena saya bukan pakar lingkungan yang bisa menjelaskan secara teori lingkungan dan saya bukan ahli politik yang bisa menjabarkan aspek geopolitik maka saya akan bahas dari teori public finance saja. Dalam teori public finance setiap kebijakan publik pasti (sekali lagi pasti) akan menimbulkan dampak negatif yang disebut eksternalitas. Jadi bohong kalau dikatakan dalam kasus reklamasi benoa ini tidak ada dampak negatif, apapun cara yang ditempuh untuk meminimalkan dampak negatif ini pasti tidak akan mampu menghilangkannya. Masih mending kita mampu mengidentifikasi eksternalitas yang akan terjadi, akan menjadi lebih berbahaya apabila terdapat eksternalitas yang tidak dapat kita antisipasi sebelumnya. Kalau dampak negatif berupa abrasi, terumbu karang yang rusak dan lain-lain mungkin si investor masih bisa menjanjikan solusi, namun bagaimana halnya dampak ke budaya, dampak ke sosiocultural, apakah hal ini bisa diukur dan diidentifikasi lalu diminimalkan?? kata si poltak raja minyak “PENING AKU BANG”.

Perspektif reklamasi yang selama ini kita kenal hanyalah dalam arti harfiah bahwa reklamasi adalah menguruk laut dengan tanah sehingga daratan menjadi lebih luas, namun sisi lain sebuah reklamasi juga berarti menguruk tatanan dan budaya sebuah masyarakat. Reklamasi ibarat katalis yang mempercepat reaksi pengeroposan sendi-sendi budaya Bali. Mengapa saya katakan seperti itu? karena reklamasi ini merupakan wujud dari pembangunan fisik saja. Saya ibaratkan sebuah toko, mereklamasi benoa ibarat membangun sebuah toko yang megah lengkap dengan kemewahannya namun melupakan barang-barang apa saja yang mau dijual. Bali, kalau saya ibaratkan barang dagangan, yang dijual hanya dua, alam dan budaya. Kalau alam sudah rusak (seperti yang sudah sering kita liat, ga usah dicontohkan lagi deh) dan kalau budaya sudah hilang (yang ini gejalanya sudah semakin parah) maka seandainya Pak Gubernur mau mereklamasi bali sampai nantinya terhubung dengan Australia pun ga akan ada gunanya karena barang dagangannya udah hilang semua Pak, mau apa lagi yang dijual nanti??

Ah, sudahlah, sejauh ini saya hanya bisa protes lewat tulisan karena hanya ini yang saya mampu untuk sekarang ini. Udah tengah malem, besok mau kerja lagi.

Semoga pikiran suci datang dari segala arah.

I Wayan Agus Eka

Posted in Selamatkan Bali | 2 Comments »

Mengurus VISA dengan Paspor Biru

Posted by I Wayan Agus Eka on July 15, 2013

Hari sudah menunjukkan pukul 12.00, sementara belum ada tanda-tanda rapat ini akan berakhir. Satu setengah jam lagi waktu pengambilan visa akan dimulai, dan sudah terbayang di benak ini bagaimana panjangnya antrian mengingat banyaknya orang yang sedang apply visa untuk libur lebaran tahun ini.

Tepat pukul 12.45 rapat akhirnya ditutup, saya segera mengambil tas dan turun ke lobby kantor mencari ojek untuk menuju halte busway di Polda Metro. “Pemberhentian selanjutnya, halte bundaran HI” suara otomatis di dalam busway merah jurusan Blok M-Kota menuntun saya untuk segera keluar dan berjalan kaki menuju sebuah gedung yang bentuknya tampak aneh di sebelah barat Jl M.H. Thamrin. Konon Bung Karno ketika sekali melintas di depan gedung ini pernah berujar “saya tidak suka dengan gedung ini”. Tapi semua itu adalah masa lalu, bagaimanapun juga Jepang sekarang sudah menjadi salah satu sahabat penting bagi Indonsia, setidaknya saya juga harus mengakuinya karena selama setahun ke depan saya akan hidup di negara ini.

Hari senin ini adalah hari yang cukup penting bagi saya. Pikiran saya sempat berkecamuk mengingat beberapa hari sebelum mengajukan visa saya dihadapkan dengan beberapa masalah. Pertama di visa application form ada kolom isian yang menyatakan nama airline yang akan saya gunakan, saya ga tau harus mengisi airline apa karena sampai sekarang saya belum mendapatkan kepastian. Ternyata setelah saya tanyakan ke petugas visanya nama airline ini cukup perkiraan saja. Kok bisa gini ya? Padahal biasanya nama airline ini wajib, bahkan di beberapa kasus tiket juga harus disertakan ketika apply visa. Usut punya usut ternyata inilah kelebihan bagi applicant yang merupakan PNS tugas belajar dan sudah mendapat Certificate of Eligibility dari imigrasi Jepang.

Masalah kedua muncul ketika tempat lahir di paspor saya salah. Ujung pangkalnya ternyata KTP saya salah dan ujungnya bersumber di kartu keluarga saya yang salah. Akhirnya dengan meminta bantuan salah seorang pegawai yang biasa mengurus hal beginian akhirnya bisa juga dibenerin paspornya.

Ternyata mengurus visa bagi pemegang paspor dinas sangat gampang, sekali lagi sangat gampang. Kita hanya perlu mengisi application form (kalau ada kolom isian yang belum bisa diisi buat perkiraan aja), pas photo 4,5 x 4,5 cm berlatar putih (yang ini ukurannya harus precise ya, dan dilem di application form), kemudian Certificate of Eligibility (yang ini diurus pihak kampus dan memakan waktu kurang lebih sebulan), asli surat dari Kemenlu semacam nota diplomatik (yang ini diurus instansi tempat kita bekerja), Certificate of Acceptance (dikeluarin pihak kampus), dan KTP. Buat persiapan, semua dokumen dikopi satu lembar aja, karena yang diambil aslinya sama petugas visanya hanya asli CoE, paspor dan surat Kemenlu itu. Kalau ada dokumen lain misalnya Certificate of Scholarship dibawa aja, just in case diminta ama petugasnya meskipun waktu saya apply kemarin tidak diminta.

Setelah petugasnya meneliti, dia akan menyatakan apakah dokumen kita lengkap atau tidak. Kalau sudah lengkap nanti akan dikasi lembar tanda terima dan kita akan diminta datang keesokan harinya (tanda terimanya jangan ampe hilang ya, bisa runtuh dunia ini kalau hilang, bila perlu masukin brankas baja dan dikunci pake gembok TSA ya, heheheheeh). Oh ya, waktu untuk apply visa itu dari jam 8.30-12.00 sementara pengambilannya dari jam 13.30-15.00.

Ada beberapa kelebihan yang saya rasakan ketika mengajukan aplikasi dengan paspor dinas. Pertama ga ditanya macem-macem dan dokumen yang diminta relatif gampang karena sudah disediakan pihak kampus dan instansi kita. Kedua, keluarnya visa sangat cepat, saya mengajukan aplikasi pada hari jumat pagi dan senin sore sudah jadi. Dan kelebihan yang paling penting adalah semua ini GRATIS, bener bro, gretong alias free of charge, wah senangnya…

Mungkin gitu aja dulu infonya, semoga bermanfaat bagi yang membaca. Yang penting adalah cari info sebanyak-banyak dulu via Prof. Google, kalau ga tau ya nanya (malu bertanya tar malu-maluin, hehehehe). Segitu dulu ya, masih sibuk ngelist barang-barang yang mau dibawa nih, uhhh makin lama makin banyak aja listnya. Tetap semangat khususnya bagi pemburu beasiswa.

Posted in Daily Notes | 1 Comment »

Menggugat Komersialisasi Prambanan

Posted by I Wayan Agus Eka on February 9, 2013

Lelah badan dan letihnya mata ini serasa belum pergi setelah menempuh perjalanan darat yang cukup jauh dari Bandung menuju Jogjakarta. Pagi itu tanggal 30 Desember 2012, saya dengan selamat menjejakkan kaki di Jogjakarta bersama calon mantan pacar saya :D.

Setelah menikmati sarapan gudeg wijilan, kami bergegas menuju tempat wajib yang harus kami kunjungi di Jogjakarta, Prambanan. Bukan hanya bermaksud untuk menikmati kembali indahnya karya monumental nenek moyang bangsa, namun juga sekedar untuk bersembahyang terutama setelah dibukanya kembali Candi Siwa. Kami berjalan menuju halte Trans Jogja, sarana transportasi di Jogjakarta yang menurut saya cukup bersahabat baik dari segi harga, keterjangkauan rutenya dan pelayanannya.

prambananKami tiba di Candi Prambanan pada siang hari dengan suasana yang sudah sangat ramai dipenuhi para pengunjung dan wisatawan. Ini merupakan kedua kalinya saya mengunjungi tempat ini setelah terakhir sekitar 10 tahun yang lalu ketika masih SMA. Suasananya sudah sangat berubah dan semakin baik. Gerbang pintu masuk sudah modern dan kebersihannya pun sudah terjaga.

Namun demikian ada satu hal yang sangat penting yang sudah mengusik saya bahkan semenjak saya menjejakkan kaki di sini. Candi Prambanan adalah salah satu tempat suci umat Hindu tidak hanya di Jawa namun juga di Nusantara. Bukan hanya satu kali saja tempat ini dipusatkan menjadi tempat perayaan Tawur Agung Kesanga sebagai salah satu rangkaian penting Hari Raya Nyepi. Selayaknya tempat suci yang memiliki juga fungsi sebagai tempat wisata maka pengelola SEHARUSNYA dan WAJIB menjaga kesucian tempat ini. Saya melihat tidak ada satupun papan peringatan atau petunjuk yang melarang pengunjung (wanita) yang sedang datang bulan untuk masuk ke area inti Candi Prambanan. Tidak bermaksud berlebihan, namun setidaknya bagi pengunjung yang sedang berhalangan agar tidak diperbolehkan untuk naik ke atas candi terlebih memasuki ruangan paling suci yang menyimpan patung para Dewa.

Karena kami memang berniat sembahyang, maka kami naik ke atas Candi Wisnu. Pengunjung yang sangat banyak menyulitkan kami memasuki ruang utama yang menyimpan patung Dewa Wisnu. Setelah berdesakan cukup lama kami akhirnya sampai di ruang utama. Sangat miris ketika kami melihat sebagian besar pengunjung antri  untuk berfoto bersama dengan patung Dewa Wisnu. Terlebih lagi sebagian dari mereka berpose yang menurut saya tidak pantas dan memanjat ke atas. Terlepas apakah patung tersebut adalah asli atau replika, namun bagi saya hal ini sangat mengusik bathin saya. Kami berusaha tidak menghiraukan mereka, kami mengambil tempat di ujung ruangan yang gelap dan kemudian berusaha mengheningkan diri ditengah keramaian memanjatkan doa dengan hanya menundukkan kepala.

Saya menyadari bahwa Candi Prambanan tidak bisa hanya diekslusifkan untuk Umat Hindu saja. Candi Prambanan adalah aset bangsa yang siapapun dapat menikmatinya tanpa memandang suka, ras dan agama. Namun seharusnya pengelola dan pemerintah tidak menghilangkan identitas Candi ini sebagai tempat suci yang masih dipergunakan sampai sekarang. Tengoklah ke Bali, di setiap pura di Bali (apalagi pura yang menjadi destinasi wisata) terpasang pengumuman dengan jelas di gerbang depan bahwa bagi wanita yang sedang datang bulan dilarang untuk memasuki area pura. Saya rasa tidak terlalu sulit untuk memasang beberapa papan pengumuman serupa di komplek Candi Prambanan. Terlepas dari akan adanya kesulitan untuk membuktikan apakah seorang pengunjung sedang berhalangan maupun tidak, namun saya meyakini bahwa upaya ini sebagai langkah awal untuk mengembalikan fungsi Candi Prambanan sebagai tempat suci dan secara bersamaan di sisi lain tidak mengebiri fungsinya sebagai destinasi wisata. Upaya ini juga untuk sebagai sarana informasi kepada pengunjung bahwa apa yang akan mereka nikmati bukan hanya sekadar struktur bangunan maha megah namun juga sebuah tempat ibadah yang wajib dijaga kesuciannya bersama-sama.

Saya meyakini tindakan para pengunjung tersebut adalah bentuk ketidaktahuan mereka dan saya tidak menyalahkan hal tersebut. Tidak ada satupun informasi di komplek Candi Prambanan yang menerangkan bagaimana seharusnya berprilaku untuk menjaga kesucian komplek ini. Saya meyakini masyarakat kita cukup bertoleransi seandainya mereka dididik terlebih dahulu mengenai apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan.

Bahwa tempat suci kini menjadi destinasi wisata adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari, namun SEPATUTNYA DAN SEHARUSNYA komersialisasi tersebut tidak menginjak aspek-aspek kesucian dari tempat tersebut yang WAJIB dijaga oleh semua pihak tidak hanya umat yang menggunakannya namun juga masyarakat yang menikmati keindahannya. Pengelola seharusnya tidak hanya mengedepankan bagaimana mendatangkan pengunjung sebanyak-banyaknya namun seharusnya menyadari bahwa apa yang mereka kelola adalah tempat yang harus dijaga kesuciannya. Saya sangat meyakini, apabila Candi Prambanan dan candi-candi lainnya tidak dijaga kesuciannya maka tempat itu tidak lebih dari gunungan batu hitam tanpa ada pancaran kesejukan, kedamaian, keluhuran, dan keagungan yang hanya dapat dinikmati apabila kesuciannya terjaga.

I Wayan Agus Eka

Posted in Daily Notes | 3 Comments »

Bercermin di Ujung Slamet Riyadi

Posted by I Wayan Agus Eka on June 29, 2012

Malam itu adalah malam terakhir saya bertugas di solo, kota yang mendapat julukan the spirit of java. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 sepulang dari makan malam menikmati enaknya kikil bakar di jalan gadjah mada. Mobil kami menelusuri jalan slamet riyadi dan sesaat lagi akan berbelok di penghujung jalan menuju tempat kami menginap. Seketika mata saya menuju sekumpulan orang yang berhimpun tepat di sebelah patung slamet riyadi, menelisik hati saya untuk mampir sebentar. Dari kejauhan terlihat kelir putih yang tidak terlalu besar, ya, itu adalah pertunjukkan wayang kulit.

Sejak kecil saya sangat suka menonton pertunjukkan wayang kulit. Di kampung halaman saya pertunjukkan wayang bisa berakhir sampai dini hari. Kesempatan ini tidak akan saya lewatkan dan sesaat setelah memarkir mobil, saya memisahkan diri dari rombongan dan melangkahkan kaki menuju pertunjukkan tersebut.

Saya menyusup di tengah keramaian dan akhirnya mendapatkan spot yang cukup baik untuk dapat menikmati pertunjukkan tersebut. Saya berdiri di sebelah seorang pemuda yang duduk di atas sepada motornya. Ternyata cerita yang disajikan bukanlah cerita klasik semacam ramayana atau mahabarata, tokoh-tokohnya pun bukanlah pandawa, rahwana dll, namun tokoh-tokoh modern yang saya tidak kenal sama sekali.

Di depan kelir sang dalang sedang memainkan dua orang tokohnya dan tentunya dengan bahasa jawa yang sebagian besar tidak saya mengerti artinya. Gelak tawa penonton pun membahana setiap sang dalang membuka dialognya. Saya yang sama sekali tidak mengerti juga tertawa kecil, bukan menertawai kelucuan yang dibuat sang dalang tapi tertawa karena yang lain tertawa juga.

Sejenak perhatian ini beralih dari kelir sang dalang menuju ke penonton. Ternyata penontonnya tidak hanya dari golongan orang tua namun banyak juga remaja tanggung yang menonton, mungkin karena lakon yang dipentaskan bukanlah lakon klasik namun lakon modern yang kita temui sehari-hari. Saya sangat senang mengamati ekspresi penonton ketika tertawa, raut muka mereka sangat orisinil, tertawa mereka tidak dibuat-buat hanya untuk sekedar menghormati sang dalang. Mereka seperti melupakan kesulitan-kesulitan hidup yang sedang dihadapi saat ini. Ekspresinya jauh dari kesan berpura-pura, polos, lugu selayaknya masyarakat tradisional yang menjunjung tinggi arti kejujuran dan ketulusan. Bagi mereka semua ini murah harganya karena mereka lakukan setiap hari, tapi bagi saya dan mungkin sebagian besar masyarakat modern, semua ini mahal harganya. Ketulusan, kejujuran dan keikhasan sudah menjadi barang langka yang teramat mahal bagi kita semua, dan di pertunjukkan inilah saya bisa melihatnya lagi, gratis.

Sang dalang masih memainkan tangan dan jarinya menghidupkan tokoh-tokoh rekaan yang dia ciptakan hingga pada sepenggal adegan terdapat 4 orang yang salah satunya adalah seorang calon lurah yang berhasil mengantongi suara terbanyak dalam sebuah pemilihan dan 3 orang lainnya adalah petugas pemilihan yang terdiri dari seorang pemimpinnya dan dua orang bawahannya. Adegan ini menggunakan dialog bahasa indonesia sehingga saya dapat memahaminya.

“terima kasih atas bantuan bapak membantu memenangkan saya dalam pemilihan ini. Ini ada uang 30 juta untuk bapak dan rekan-rekan bapak” tungkas sang lurah terpilih. Si A (sebut saja seperti itu) sebagai pimpinan petugas pemilihan kemudian bertemu dengan si B dan si C, anak buahnya. “rekan-rekan, ini ada uang 3 juta dari pak lurah sebagai imbalan atas bantuan kita memenangkan beliau, saya ambil sejuta dan sisanya buat kalian berdua”. Seketika tertawalah para penonton ketika sang dalang menyampaikan dialog tersebut.

Dalam hati kecil saya sangat penasaran, mengapa untuk dialog tersebut hampir semua penonton tertawa terbahak-bahak, apakah memang mereka menertawakan cara dialog tersebut dibawakan yang memang sangat jenaka atau mereka sedang menertawakan isi atau pesan yang hendak disampaikan sang dalang. Bagaimana kemudian sang dalang dengan cerdas menyindir pembagian uang haram yang juga tidak luput dari korupsi (udah uangnya haram, dikorupsi pula). Semua ini seperti menohok saya dan kita semua, dan inilah pesan yang ingin disampaikan sang dalang kepada khalayak.

Entah disadari oleh penonton atau tidak, memang ada pesan tersembunyi yang hendak disampaikan oleh sang dalang. Inilah substansi dari wayang itu sendiri. Di kampung halaman saya wayang ditonton di balik layar, jadi sang penonton hanya akan melihat bayangan wayangnya saja. Dari sanalah kemudian muncul sebuah makna mendalam bahwa menonton wayang adalah menonton bayangan kita sendiri, melihat diri kita sendiri di depan sana dengan tingkah laku yang beraneka macam. Dan itulah intinya, bercermin sehingga mampu melihat dan menyimpulkan apakah yang kita lakukan selama ini sudah berada dalam jalur yang benar atau perlu koreksi.

Waktu sudah menunjukkan pukul 21.30, saya pun melangkah pamit meskipun pertunjukkan belum usai. Malam itu, dibawah sebuah patung pahlawan, sebuah pagelaran memberikan kesempatan bagi saya untuk bercermin kembali, melihat noda-noda yang mulai menghitamkan wajah ini seraya berusaha mengambil tisu bersih untuk mulai membersihkannya lagi. Terima kasih Solo atas sebuah kearifan yang engkau ajarkan, suatu saat aku pasti kembali lagi, meskipun hanya untuk bercermin.

Posted in Daily Notes | 3 Comments »

Teori Keagenan, Maximizing Shareholders (Life) Value dan Tri Hita Karana

Posted by I Wayan Agus Eka on January 15, 2012

Dalam sebuah entitas ekonomi (bahkan institusi publik sekalipun), manajemen (atau pemerintah) merupakan agen dari pemilik modal (rakyatnya) yang memiliki tugas utama untuk meningkatkan nilai mereka (maximizing shareholders value). Segala tindakan dari sebuah manajemen adalah dalam rangka meningkatkan nilai pemegang sahamnya. Inilah inti dari teori keagenan dalam berbagai literatur ekonomi. Dalam perkembangannya teori ini juga diadopsi pada ranah manajemen publik dengan melibatkan pemerintah sebagai agen dari rakyatnya.

Disadari ataupun tidak, teori ini juga berlaku dalam kehidupan ini. Kita semua adalah agen-agen bagi orang lain untuk meningkatkan nilai mereka dan disaat yang sama kita juga berposisi sebagai shareholder bagi mereka. Bedanya, dalam teori keagenan kehidupan shareholdernya bukanlah pemegang saham tapi semua hal di luar kita, yaitu orang tua, saudara, pasangan, anak, rekan kerja, bahkan makhluk hidup dan alam ini seluruhnya. Nilai yang dimaksimalkan juga bukan nilai saham namun nilai dalam arti luas antara lain kedewasaan, pencapaian, penerimaan, pengetahuan, penghargaan dan lain sebagainya.

Berbagi dan Pemaksimalan Nilai
Lalu bagaimana caranya meningkatkan nilai shareholders kita? Bertolak belakang dengan premis matematika dimana berbagi dimaknai sebagai pengurangan (minus), maka dalam teori keagenan kehidupan berbagi adalah cara paling efektif untuk meningkatkan nilai shareholders termasuk nilai kita sendiri sebagai shareholders bagi mereka di luar kita. Berbagi memang mengurangi pada saat kita melakukannya namun suatu saat jumlah yang kita terima akan berlipat-lipat. Selayaknya menabung yang mengurangi nilai uang di kantong kita, namun suatu saat kita dapat menikmati kembali uang tersebut bahkan dengan bunganya sekaligus.

Proses pemaksimalan
Bayangkan dua orang anak manusia berbeda jenis, sang lelaki dan sang wanita. Kita asumsikan mereka berdua memiliki masing-masing memiliki modal nilai sejumlah 10. Proses pernikahan dipercaya berbagai agama sebagai salah satu sarana untuk memaksimalkan nilai kedua orang ini.

Ketika mereka berpasangan, masing-masing bertindak sebagai agen dari pasangannya, mereka bersepakat untuk saling berbagi dengan menyerahkan sebagian modal nilai mereka kepada pasangannya. Mengapa sebagian? Karena sisanya mereka gunakan untuk kehidupan mereka masing-masing, untuk pekerjaan, orang tua, masyarakat, anak dan lain sebagainya. Proses berbagi antara kedua anak manusia berbeda jenis inilah yang nantinya akan memaksimalkan nilai mereka masing-masing sehingga bahkan akan mampu memperoleh nilai di atas modal mereka semula yaitu 10. Inilah yang dalam pepatah sering disebut dibalik laki-laki yang hebat terdapat wanita yang hebat dan sebaliknya di balik wanita yang hebat terdapat laki-laki yang juga hebat.

Lalu apakah selamanya akan terjadi proses pemaksimalan nilai dalam hubungan pasangan ini? Jawabannya tentu tidak. Setiap manusia pada dasarnya memiliki standar pengharapan masing-masing dari pasangannya. Misalnya dalam perumpamaan ini standar pengharapan si wanita adalah 6, namun sang laki-laki hanya bisa memberikan 5 saja karena selebihnya dia gunakan untuk pekerjaan kantornya, adiknya, bisnisnya, orang tuanya dst. Apabila si wanita tidak mau menerima nilai yang dibawah standarnya maka alih-alih akan terjadi pemaksimalan nilai yang terjadi justru akan mengurangi nilai masing-masing karena energi mereka berdua terkuras untuk konflik dan pertentangan. Lalu bagaimana cara mengatasinya? Tidak ada cara lain selain yang disebut dengan pengertian, selisih sejumlah 1 (6-5) antara standar pengharapan sang wanita dengan nilai yang dia dapat dari pasangannya adalah apa yang disebut dengan pengertian dan penerimaan.

Secara teori, apa yang diilustrasikan di atas sangat simpel dan sederhana sehingga terkesan sangat gampang untuk dilaksanakan, namun pada prakteknya tidak semudah itu. Pertentangan selalu akan terjadi, tawar menawar selalu akan sengit untuk menuju titik temu yang dalam istilah ekonomi disebut harga.

Contoh di atas hanya merupakan gambaran sederhana bagaimana proses pemaksimalan nilai seseorang yang terbentuk dalam hubungan antara sepasang anak manusia. Proses lainnya juga berlaku untuk pola hubungan yang lain seperti hubungan keluarga, hubungan rekan kerja di kantor bahkan hubungan kita dengan Tuhan dan lingkungan sekitar. Bukan sebuah kebetulan pula apabila pola hubungan (keagenan) ini dalam konsep tradisional Hindu sering disebut dengan Tri Hita Karana, sebuah konsep yang menyebutkan bahwa keseimbangan semesta terbangun dari keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia dan manusia dengan alamnya.

Semoga kita semua mampu menjadi agen-agen yang akan memaksimalkan nilai shareholders kita.

Posted in Daily Notes | 3 Comments »

Ketika Orang Mabuk Bukan Karena Miras

Posted by I Wayan Agus Eka on January 14, 2012

“ahh..elo lagi elo lagi” gumam saya ketika mata ini dipertontonkan adegan kekerasan layak sensor. Niatnya sih mulia, ingin memperjuangkan supaya perda miras tidak dicabut. Tapi apa gunanya niat yang mulia ketika diejawantahkan dalam lemparan batu dan ayunan tongkat kayu.

Tidak hanya sekali ini saja, catatan sejarah menunjukkan perilaku yang sama sudah sangat sering diperagakan, lalu apa gunanya ilmu Ilahi yang dikuasai kalau semuanya berujung anarkisme. Sejarah masa lalu sudah banyak memberikan gambaran kalau perjuangan dengan kekerasan hanya akan menyisakan pihak yang kalah, tidak ada yang menang. Namun sebaliknya, perjuangan dengan mengandalkan diplomasi dan kekuatan rasa atau pikiran sudah banyak terbukti keberhasilannya, lihatlah India dengan Gandhi, lihatlah Aceh dengan JK.

Pikiran bodoh saya sering bercanda kepada saya, kalau seperti ini mungkin lebih baik miras dibiarkan saja beredar dengan bebas, kalau orang sudah mabuk palingan dia hanya teriak-teriak ga jelas, jalan terhuyung huyung lalu rebah menghujam tanah, tinggal keesokan harinya diguyur air saja daripada mereka yang anti miras (dan logikanya tidak pernah mabuk) tetapi merusak dan mengancam orang lain. Saya menjadi heran, kalau sudah seperti ini siapa yang sebenarnya lagi mabuk???

Kata Bang Haji, miras memang memabukkan, tetapi nafsu merusak ternyata lebih dahsyat memabukkannya daripada miras. Kalau sudah seperti ini, Bang Haji sepertinya harus mengubah lirik lagunya.

Posted in Daily Notes | Leave a Comment »

Ketika kesendirian dan kebersamaan sama-sama menjadi sebuah kebutuhan

Posted by I Wayan Agus Eka on October 1, 2011

Saya termasuk orang yang berkesimpulan kalau bersosialisasi, bergaul, berkomunikasi dan berhubungan merupakan kebutuhan wajib bagi seorang manusia. Keseharian kita dilewati dengan mencari dan memperbanyak teman, sahabat, klien dan seterusnya. Bahkan dengan banyaknya social media dewasa ini, kendala jarak dan waktu untuk memperbanyak teman tidak menjadi masalah lagi.

Begitu pula saya, seorang pegawai yang setiap hari berkutat dengan rekan-rekan kantor, menyelesaikan laporan yang ibarat laut tak bertepi, berinteraksi dengan atasan, berkeluh kesah dengan pasangan dan keluarga dan seterusnya. Berbagai macam interaksi tadi memberikan pelajaran tentang makna menghargai hubungan dengan sesama.

Namun, entah kenapa saya sangat menikmati sedikit menit waktu yang ada untuk sendiri. Tidak terlalu lama yang saya habiskan, karena memang saya hanya membutuhkannya sebentar saja.

Saya biasa melakukannya di perjalanan pulang dari kantor. Dari dalam helm, sambil mengendarai sepeda motor, saya bisa mendengar dengan jelas setiap ucapan yang keluar dari mulut saya. Saya sering mengutarakan ide,pendapat,gagasan,apapun itu dengan ngomong di helm tadi. Mulai dari mengomentari budayawan yang sudah tidak laku dan alih profesi menjadi komentator politik, sampai mengucapkan doa ketika melihat seorang pria mendorong motornya yang pecah ban, semoga segera menjumpai tukang tambal ban.

Bagi saya waktu kesendirian tersebut adalah salah satu sesi kuliah untuk lebih memaknai hidup ini dan mensyukurinya. Lebih dari itu, waktu favorit saya yang lain adalah ketika naik bus pergi ke luar kota. Di perjalanan saya bisa merenung, melihat lampu-lampu jalan yang bergerak cepat meninggalkan kita, melihat wajah orang-orang dengan berbagai macam ekspresinya bahkan ngeblog dari hp (saya menulis ini ketika perjalanan ke bandung).

Dengan speaker menempel di telinga, dan channel radio memutar lagu yang kadang saya ga kenali, pikiran ini terus menjelajah ke alam yang tidak terbatas, antara nyata dan maya. Seringkali pikiran liar bin aneh muncul tiba-tiba, mulai dari ide untuk mencabut subsidi bbm seketika jika saya jadi presiden, mengusir freeport dari republik ini, impian untuk sekolah, bahkan sampai memaknai kematian.

Disinilah kemudian saya berkesimpulan bahwa kesendirian juga merupakan kebutuhan bagi setiap orang. Manusia pada hakikatnya memang tidak bisa hidup sendiri, tapi manusia tetaplah seorang individu. Tidak akan ada orang yang benar-benar bisa memahami pemikiran seseorang 100 persen, bahkan oleh pasangannya sendiri, karena pemikiran itu bebas, liar, dan tak terbatas. Yang bisa dilakukan orang di luar kita hanya memahami dan mengerti, ya, hanya sebuah pengertian ke diri ini.

Kesendirian memberikan saya ruang untuk berdialog dengan “sang diri”. Suaranya yang seringkali terkalahkan dengan kebisingan kehidupan dan teriakan permasalahan hidup. “Sang diri” juga butuh didengar dan hanya kitalah yang mampu mendengarnya, bukan dengan telinga tapi dengan rasa. Dia adalah sayup-sayup akan terdengar ketika kita meluangkan waktu sedikit untuknya. Dan bahkan, dialah yang sebenarnya setiap detik meneriaki kita dengan nasihat dan kejernihan.

Inilah saya dengan kebersamaan saya sekaligus kesendirian saya dengan “diri” ini. Bagaimana dengan anda?

Posted in Daily Notes | 4 Comments »

Merdeka*

Posted by I Wayan Agus Eka on August 17, 2011

*syarat dan ketentuan berlaku

 

Kalau kita menanyakan kepada masyarakat apakah kita sudah merdeka saya meyakini jawabannya adalah belum. Tokoh-tokoh masyarakat, politisi, pengusaha, kaum terpelajar sepertinya sepakat bahwa bangsa ini belum merdeka sama sekali. Alasan yang dikemukakan sederhana, kita belum berhasil mencapai cita-cita bangsa sebagaimana diamanatkan dalam paragraf terakhir pembukaan UUD 1945. Bangsa ini belum mampu mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya, belum mampu mencerdaskan seluruh lapisan masyarakatnya dan belum mampu melindungi seluruh warga negaranya. Sederet kalimat terakhir inilah yang menyimpulkan bahwa merdeka hanya dicapai jika syarat dan ketentuan tersebut terpenuhi.

Ijinkan saya untuk berbeda pandangan dengan pemikiran mainstream tersebut. Saya, dalam berbagai kesempatan terutama ketika bulan kemerdekaan tiba seringkali merenung, kapan sebuah bangsa dikatakan makmur? kapan sebuah bangsa disebut cerdas? kapan sebuah bangsa dianggap melindungi seluruh rakyatnya. Apakah ketika tidak ada kemiskinan atau kebodohan kita dapat dikatakan mencapai cita-cita kita? lalu kapan kemiskinan dan kebodohan itu benar-benar lenyap? apakah ketika seluruh rakyat memiliki penghasilan di atas 5 juta sebulan atau ketika seluruh rakyat minimal berpendidikan SMA? dan kalimat-kalimat menyangkut definisi makmur, cerdas, miskin, dll terus-menerus berlari dalam pikiran ini.

Saya lalu mengambil contoh negara lain, coba tunjuk satu negara di dunia ini yang menurut anda sudah sejahtera, cerdas dan melindungi warganya. Kita ambil saja Amerika Serikat, benarkah rakyat Amerika sudah sejahtera, cerdas dan melindungi semua bangsanya? pernahkah terlintas dalam pikiran kita bahwa ada sebuah sekolah disana yang rusak dan hanya berjarak beberapa blok dari White House? Atau mengenai kemiskinan yang dialami kaum Africa-America disana?

Pikiran saya terus berputar untuk menemukan kondisi yang dicapai suatu negara sehingga kita pantas untuk mengatakannya sejahtera, cerdas dan melindungi rakyatnya. Namun semakin keras otak ini berputar, semakin sulit untuk menemukannya, bahkan untuk mengimajinasikannya pun saya tidak sanggup.

Bertolak dari kemustahilan untuk mendefinisikannya itu, saya tidak akan menyimpulkan bahwa cita-cita kita adalah mustahil namun saya justru akan mengubah cara pandang saya mengenai arti dari kemerdekaan itu sendiri. Saya tidak lagi mendefinisikan kemerdekaan sebagai sebuah hasil yang ingin kita capai, tidak lagi mendefinisikan kemerdekaan sebagai sejahtera atau cerdas, namun saya mendefinisikan kemerdekaan sebagai sebuah proses. Kita semua “merdeka” untuk melakukan segala upaya yang terbaik di bidang kita masing-masing untuk mencapai apa yang disebut dalam alinea ke-4 pembukaan UUD 45, kita semua “merdeka” untuk berusaha sekuat tenaga mencapai kesejahteraan dan kemandirian bangsa.

Inilah arti merdeka bagi saya, dan ketika saya mendefinisikan merdeka dengan seperti ini maka saat ini juga saya mengatakan bahwa kita semua sudah merdeka. Dan ijinkan saya kemudian untuk menghapus tanda (*) pada judul artikel ini karena saya dan anda semua telah merdeka, ya telah merdeka tanpa syarat apapun. Merdeka

I Wayan Agus Eka

 

Posted in Daily Notes | Leave a Comment »

Jangan Hapuskan Soal Ujian Itu

Posted by I Wayan Agus Eka on July 31, 2011

Tersebutlah dua keluarga yang memiliki anak masing-masing Angga dan Bayu. Keduanya tahun ini genap berusia 18 tahun dan akan melalui tahun pertamanya di perguruan tinggi.

Orang tua mereka sangat bangga dengan anak-anaknya, semua perlengkapan kuliah dibelikannya, bahkan sampai mainan PS3, gadget ipad, smarthphone, mobil dan lain sebagainya.

Perlakuan kedua orang tua mereka pada anaknya sebenarnya sama kecuali satu hal ketika anak-anaknya akan menghadapi ujian di kampusnya. “Selama kamu UTS dua minggu mendatang, handphone, PS, Ipad, televisi di kamarmu, mobil dan barang-barang lainnya bapak sita supaya kamu fokus. Bapak tidak mau kamu menghabiskan waktumu dengan semua barang-barang tadi dan mengganggu waktu kamu belajar.” begitulah bapak si angga berkata pada anaknya.

Namun lain halnya dengan ortu angga, bapak si bayu berujar “Nak, kamu sudah dewasa, sudah mengerti mana yang baik mana yang buruk, sudah bukan saatnya lagi Bapak menyita barang-barangmu seperti dulu ketika kamu hendak ujian. Semua Bapak serahkan padamu, kamulah yang memutuskan. 2 minggu ke depan kamu tidak hanya akan menghadapi ujian di kampusmu, tapi kamu juga akan diuji tingkat kesabaran dan kedewasaanmu. Kalau bapak menyita barang-barangmu seperti dahulu kamu tidak akan pernah mengalami ujian melawan hawa nafsumu karena bapak sudah menyingkirkan sang soal terlebih dahulu sebelum lonceng pertanda ujian dimulai berdentang dan alhasil bapak tidak akan pernah melihat anak kebanggaan bapak naik kelas dan lulus.”

Posted in Daily Notes | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.