DAUN LONTAR

Kajian Jurnal Akuntansi Pemerintah Berbasis Akrual

Posted by I Wayan Agus Eka on June 18, 2009

Pemberlakuan akuntansi berbasis akrual di satu sisi akan menghasilkan laporan operasional dan neraca yang disajikan dalam bentuk akrual namun perlu diingat bahwa harus dihasilkan juga LRA yang dasar pencatatannya menggunakan basis kas karena penyusunan anggaran masih menggunakan basis kas. Dampak dari hal ini adalah perlunya dibuatkan jurnal yang mampu menampung semua jenis kemungkinan tersebut sehingga semua jenis laporan tersebut dapat dihasilkan. LRA dan laporan perubahan SAL merupakan jenis laporan yang dihasilkan dengan menggunakan pendekatan kas sedangkan LO, Neraca dan Laporan Perubahan Ekuitas merupakan jenis laporan yang dihasilkan dari pendekatan akrual.

Akun-akun yang digunakan di jurnal nantinya harus mampu untuk menunjukkan arah laporan yang akan dihasilkan mengingat terminologi yang digunakan ada ada sedikit kemiripan namun secara substansi memiliki arti yang berbeda. Untuk kesepakatan dalam paper ini maka sesuai dengan draft PSAP akrual yang dikeluarkan KSAP maka untuk

  1. Akun pendapatan akan dibedakan menjadi 2 jenis yaitu pendapatan-LRA yang berbasis kas yang nantinya akan masuk sebagai komponen LRA  dan pendapatan-LO yang berbasis akrual yang nantinya akan masuk ke laporan operasional.
  2. Untuk akun belanja akan digunakan sebagai dasar dalam penyusunan LRA yang berbasis kas sementara untuk laporan operasional akan digunakan terminologi beban.
  3. Sisa penggunaan anggaran di LRA nantinya akan dinamakan sisa anggaran lebih (SAL) sementara laporan operasional akan menghasilkan surplus/defisit-LO.

Jurnal Korolari

Jurnal korolari muncul karena di satu sisi pengakuan akun-akun LRA menggunakan basis kas sementara akun neraca menggunakan basis akrual. Undang-undang mengharuskan supaya semua penerimaan dan pengeluaran kas harus melalui LRA dan dicatat sebagai realisasi pendapatan dan belanja. Sebagai contoh ketika pemerintah menerima pembayaran pajak maka akan dicatat (pada SAKUN)

KUN

xxx

Pendapatan pajak

xxx

Jurnal di atas sudah barang tentu hanya akan mempengaruhi LRA (pada akun pendapatan) dan kas pada neraca. Namun masalah akan muncul ketika pemerintah melakukan realisasi belanja modal dimana di satu sisi pemerintah harus melakukan penjurnalan akun LRA namun di sisi lain pemerintah harus mengakui penambahan aset di neraca sebagai konsekuensi penggunaan basis akrual di neraca. Masalah ini diatasi dengan menggunakan jurnal yang disebut dengan jurnal korolari. Dengan menggunakan jurnal korolari disamping melakukan penjurnalan realisasi belanja modal, di sisi lain dapat dibuat neraca yang berbasis akrual. Jurnal korolari dalam kasus ini dilakukan dengan melakukan pendebetan aset dan pengkreditan akun ekuitas dana.

Pertanyaan yang sekarang timbul apakah jurnal korolari masih diperlukan ketika basis akrual diterapkan dalam akuntansi pemerintah?

Selama ini jurnal korolari digunakan sebagai jembatan yang menghubungkan antara basis kas yang digunakan dalam akuntansi LRA dengan basis akrual yang digunakan di neraca. Namun dengan penggunaan basis akrual untuk menghasilkan laporan operasional maka secara akuntansi perkiraan riil di neraca sudah terhubung dengan perkiraan nominal di laporan operasional. Dalam hal ini laporan operasional dapat diibaratkan sebagai laporan laba rugi di akuntansi konvensional yang terhubung dengan neraca dimana surplus/defisit-LO pada laporan operasional (laba/rugi pada akuntansi konvensional) nantinya akan terhubung dengan neraca melalui laporan perubahan ekuitas.

Kondisi bahwa basis akrual mampu menghubungkan transaksi yang melibatkan akun riil dan nominal membawa konsekuensi jurnal korolari tidak diperlukan lagi dalam akuntansi pemerintah karena setiap transaksi yang melibatkan akun neraca akan dapat terakomodasi dalam basis akrual ini. Dengan mengambil contoh pembelian aset di atas maka secara akrual akan langsung diakui pada debit akun aset dan di kredit pada kas sehingga perkiraan aset akan langsung muncul di neraca.

Jurnal akrual yang disebutkan pada paragraf sebelumnya hanya bisa menghasilkan LO, Neraca, LAK dan Laporan Perubahan Ekuitas, sementara PSAP juga mensyaratkan untuk menghasilkan LRA dan Laporan Perubahan SAL. Permasalahan menjadi kompleks ketika basis akuntansi yang digunakan untuk menghasilkan kedua kelompok laporan ini berbeda, LO, Neraca, LAK dan Laporan Perubahan Ekuitas menggunakan basis akrual sementara sisanya menggunakan basis kas. Sehingga menurut penulis, jurnal yang nantinya akan digunakan harus mampu untuk menghasilkan kedua laporan yang basisnya berbeda ini.

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa diperlukan modifikasi jurnal yang selama ini kita kenal di basis cash toward accrual ketika kita ingin menggunakan basis akrual tetapi tetap dapat menghasilkan LRA yang berbasis kas, dan jurnal korolari yang ada di basis cash toward accrual dihapuskan karena sudah terakomodasi dalam jurnal akrual.

Akuntansi pemerintahan di Indonesia dilakukan pada beberapa tingkatan. Pada level Kementrian/Lembaga (K/L) akuntansi pemerintah dilakukan terutama bertujuan untuk menghasilkan LRA, Neraca dan LO ketika basis akrual digunakan, sementara pada level BUN tujuan utamanya adalah untuk menghasilkan LAK. Sesuai dengan draft akrual PSAP maka LAK hanya dihasilkan oleh entitas yang menyelenggarakan fungsi perbendaharaan (dalam hal ini BUN di Dit Pb) sehingga tidak akan ditemui akun Kas Umum Negara (KUN) di level K/L, akun KUN hanya ditemui pada akuntansi di level BUN.

1. Jurnal Akuntansi Anggaran

Menurut penulis ada perbedaan penjurnalan khususnya pada tingkat K/L ketika DIPA disahkan sementara jurnal pada tingkat BUN ketika APBN disahkan tetap sama ketika menggunakan basis cash toward accrual.

Ketika UU APBN disahkan

Ketika APBN disahkan maka BUN akan melakukan penjurnalan (K/L belum melakukan penjurnalan) sbb:

BUN

Estimasi Pendapatan-LRA

xxx

Surplus/Defisit

xxx

Surplus/Defisit

xxx

Apropriasi Belanja

xxx

Estimasi penerimaan Pembiayaan

xxx

Pembiayaan Netto

xxx

Pembiayaan Neto

xxx

Apropriasi Pengeluaran Pembiayaan

xxx

Ketika DIPA disahkan

Ketika basis akrual disahkan maka akan timbul utang atau piutang kepada KUN di K/L.

Utang ini berarti bahwa K/L memiliki kewajiban untuk menyetorkan pendapatan yang diterimanya ke kas negara sehingga sebagai contra accountnya (sesuai dengan persamaan dasar akuntansi) maka akun ekuitas harus didebit (bandingkan dengan basis sebelumnya yang mendebit estimasi pendapatan yang dialokasikan). Pendebitan ekuitas ini mencerminkan adanya adanya kemungkinan penurunan ekuitas di masa datang karena adanya pelunasan utang dalam bentuk penerimaan pendapatan.

Piutang dalam hal ini berarti bahwa K/L memiliki hak untuk mendapatkan sejumlah uang dari KUN berkaitan dengan anggaran (DIPA) yang sudah disetujui. Analogi dengan penjelasan utang pada paragraf sebelumnya maka akun kotra dari piutang ini juga merupakan ekuitas yang mencerminkan adanya penambahan ekuitas entitas karena menerima kas dari KUN yang digunakan untuk belanja.

K/L

Ekuitas Dana-Pendapatan-LRA

xxx

Utang kepada KUN

xxx

(mencatat estimasi pendapatan yang dialokasikan)
Piutang dari KUN

xxx

Ekuitas Dana-Belanja

xxx

(mencatat allotment belanja)

Ekuitas Dana-Penerimaan Pembiayaan

xxx

Utang kepada KUN

xxx

(mencatat estimasi penerimaan pembiayaan yang dialokasikan)
Piutang dari KUN

xxx

Ekuitas Dana-Pengeluaran Pembiayaan

xxx

(mencatat allotment pengeluaran pembiayaan)

2. Jurnal Akuntansi Pendapatan-LO dan Pendapatan-LRA

Sesuai dengan draft akrual maka pendapatan-LO diakui ketika pendapatan diperoleh atau pendapatan direalisasi. Jadi pada definisi ini terdapat komponen pendapatan-LO yang diakui terlebih dahulu sebelum adanya penerimaan kas (sehingga piutang pendapatan harus diakui) namun ada juga pendapatan-LO yang baru diakui ketika penerimaan kas.

Ketika pendapatan-LO diakui pada skenario pertama dimana pengakuan terjadi sebelum kas diterima maka K/L akan melakukan penjurnalan sebagai berikut:

Piutang Pendapatan……

xxx

Pendapatan…..-LO

xxx

Jurnal diatas dirinci menurut jenis pendapatannya. Jurnal di atas fungsinya akan menghasilkan LO dan neraca secara akrual.

  1. Pendapatan yang disetor ke BUN

Ketika terjadi transfer ke BUN maka akan terjadi 2 kejadian akuntansi sekaligus dimana piutang yang sudah tercatat sebelumnya harus dihapuskan dan harus ada pengakuan realisasi anggaran pendaptan-LRA. Sehingga pada K/L akan dilakukan pencatatan sebagai berikut:

Utang Kepada KUN

xxx

Piutang Pendapatan…..

xxx

Jurnal diatas adalah untuk menghapus piutang pendapatan karena kas sudah diterima di BUN, namun bukan akun KUN yang akan muncul di sisi debit karena sesuai dengan penjelasan sebelumnya, bahwa akun KUN hanya akan muncul pada entitas yang menyelenggarakan fungsi perbendaharaan yang dalam hal ini adalah BUN. Sebagai alternatif pengganti KUN maka akun Utang Kepada KUN akan berkurang karena adanya pengurangan kewajiban entitas atas realisasi pendapatan yang menjadi tanggung jawabnya.

Jurnal diatas juga mampu untuk menghasilkan LRA dengan melihat pendebitan dari akun Utang Kepada KUN. LRA dapat dilihat ketika K/L melakukan penjurnalan atas transaksi yang mendebit akun Utang Kepada KUN dalam hal terjadi realisasi pendapatan dan sebaliknya ketika terjadi pengkreditan akun Piutang Dari KUN dalam hal terjadi realisasi belanja. Untuk lebih memudahkan penyusunan LRA maka sebaiknya dibuatkan buku besar pembantu untuk akun Utang Kepada KUN dan Piutang dari KUN untuk masing-masing item dalam LRA. Apabila LRA sudah berhasil disusun maka akan lebih mudah juga menentukan SAL sehingga Laporan Perubahan SAL juga dapat disusun untuk masing-masing K/L meskipun peraturan perundang-undangan mengharuskan SAL untuk ditransfer ke BUN.

Selain di K/L pengaruh transaksi pelunasan piutang/penerimaan kas ini juga mengharuskan BUN untuk melakukan pencatatan dalam rangka menghasilkan LAK sebagai berikut:

KUN

xxx

Pendapatan-LRA

xxx

Perlu diperhatikan bahwa akun yang digunakan di BUN adalah Pendapatan-LRA, hal ini untuk membedakan dengan akun pada basis akrual yang nantinya akan muncul di LO (Pendapatan-LO) karena hal ini sesuai dengan tugas BUN yang nantinya akan menghasilkan Laporan Arus Kas sebagai entitas yang melaksanakan fungsi perbendaharaan.

Sehingga secara keseluruhan jurnal-jurnal yang dibuat ketika terjadi pengakuan dan penerimaan pendapatan adalah sbb:

K/L

Piutang Pendapatan……

xxx

Pendapatan…..-LO

xxx

Utang Kepada KUN

xxx

Piutang Pendapatan…..

xxx

BUN

KUN

xxx

Pendapatan-LRA

xxx

Pendapatan melalui Bendahara Penerimaan

Ketika pendapatan diakui maka K/L akan menjurnal

Piutang Pendapatan……

xxx

Pendapatan…..-LO

xxx

Ketika kas diterima melalaui bendahara penerimaan maka perlakuannya adalah serupa dengan basis cash toward accrual dimana tidak ada jurnal hanya membuat catatan besarnya penerimaan. Ketika kas tersebut sudah disetor ke BUN maka K/L akan menjurnal

Utang Kepada KUN

xxx

Piutang Pendapatan…..

xxx

Sementara pada BUN, ketika kas baru diterima oleh bendahara penerimaan BUN belum melakukan penjurnalan namun ketika BUN sudah menerima transfer kas maka BUN akan menjurnal sbb:

KUN

xxx

Pendapatan-LRA

xxx

Apabila terdapat sisa dana di bendahara penerimaan, maka pada saat penyusunan laporan keuangan akan dibuatkan jurnal penyesuaian untuk mencatat sisa dana tersebut sebagai utang penyetoran kepada BUN yang menunjukkan adanya kewajiban bendahara pengeluaran pada tanggal pelaporan (neraca) untuk menyetorkan dana yang tersisa ke KUN. Jurnalnya sbb (di K/L):

Kas di Bendahara Penerimaan

xxx

Utang Penyetoran Pendapatan-LRA

xxx

Akun Utang Penyetoran Pendapatan-LRA merupakan akun riil yang akan muncul di bagian kewajiban di neraca.

  1. Pendapatan atas penjualan aset

Ketika K/L melakukan penjualan aset kepada pihak ketiga maka secara akrual K/L akan mengakui piutang dan keuntungan/kerugian ketika aset tersebut telah berpindah tangan ke pihak ketiga. Jurnalnya (jika untung) sbb:

Jika untung

Piutang….

xxx

Akumulasi Penyusutan-Aset….

xxx

Aset tetap….

xxx

Surplus Penjualan Aset Nonlancar

xxx

Jika rugi

Piutang….

xxx

Defisit Penjualan Aset Nonlancar

xxx

Akumulasi Penyusutan-Aset….

xxx

Aset tetap….

xxx

Ketika pihak ketiga tersebut telah melakukan pembayaran ke KUN maka K/L akan mencatat sbb:

Utang Kepada KUN

xxx

Piutang…

xxx

Pada saat yang sama dengan penerimaan di KUN maka BUN akan mencatat sbb:

KUN

xxx

Pendapatan-LRA PNBP Lainnya

xxx

  1. Pengembalian pendapatan

Mengingat bahwa terdapat 2 jenis pendapatan yaitu pendapatan-LRA dengan pendapatan-LO maka terjadi sedikit kompleksitas dalam menentukan apakah pengembalian terjadi pada periode yang sama dengan pengakuan pendapatan-LRA dan pendapatan-LO. Menurut hemat penulis, dengan mempertimbangkan cost benefit dan materialitas, maka untuk pengembalian pendapatan ini sebaiknya diakui (dan dijurnal) dengan berdasarkan pada basis kas sehingga pengembalian baru akan dicatat ketika sudah dikeluarkan dari KUN.

Untuk pengembalian yang bersifat recurring baik yang diterima pada periode yang sama atau berbeda dan pengembalian yang bersifat non-recurring yang diterima pada periode yang sama maka K/L akan mencatat sbb:

Pendapatan-LO

xxx

Utang kepada KUN

xxx

Sementara di BUN pada saat yang sama akan mencatat:

Pendapatan-LRA

xxx

KUN

xxx

Untuk pengembalian yang bersifat non-recurring yang diterima pada periode yang berbeda maka pencatatan hanya dilakukan di BUN dengan jurnal sbb:

SiLPA

xxx

KUN

xxx

3. Akuntansi Belanja dan Beban

  1. Pengakuan Beban dan Belanja Langsung

Sesuai dengan draft akrual maka beban diakui ketika timbulnya kewajiban, terjadinya konsumsi aset, atau terjadinya penurunan manfaat ekonomis atau potensi jasa. Ketika peristiwa tersebut terjadi maka beban harus diakui dan dicatat dengan jurnal sebagai berikut (di K/L):

Beban…..(dirinci menurut klasifikasi ekonomi)

xxx

Utang  beban……(dirinci)

xxx

Ketika terhadap beban tersebut dilakukan pelunasan maka secara akuntansi ada 2 jenis transaksi yang terjadi yaitu transaksi pelunasan utang yang sebelumnya sudah tercatat pada saat pengakuan beban dan transaksi realisasi belanja untuk menghasilkan LRA namun sesuai dengan penjelasan pada subbab akuntansi pendapatan maka LRA dapat dibuat dengan melihat pengkreditan piutang dari KUN sehingga cukup dibuatkan satu jurnal sbb (di K/L):

Utang beban

xxx

Piutang dari KUN

xxx

Pada saat yang bersamaan dengan pelunasan utang beban maka BUN akan melakukan penjurnalan sbb:

Belanja

xxx

KUN

xxx

Apabila atas pembayaran dari KUN tersebut dipotong oleh pemerintah untuk ke pihak lain (misalnya dipotong untuk ke Askes dll), maka penjurnalannya serupa dengan jurnal pada basis cash toward accrual sebagai berikut

KUN

xxx

Penerimaan PFK

xxx

(Saat pemotongan oleh pemerintah)

Pengeluaran PFK

xxx

KUN

xxx

(Saat penyetoran kepada pihak ketiga)

  1. Pencatatan Belanja Modal

Ketika terjadi belanja modal maka secara akrual harus dicatat aset yang mengalami penambahan, jurnal korolari dalam hal ini tidak diperlukan lagi. Sehingga jurnal-jurnal yang dicatat ketika terjadi belanja modal adalah sbb (di K/L):

Aset…(sesuai nama asetnya)

xxx

Piutang dari KUN

xxx

(untuk mencatat penambahan aset secara akrual)

Sementara itu di BUN akan dicatat:

Belanja Modal

xxx

KUN

xxx

  1. Pembayaran melalui Dana Kas Kecil

Ketika uang persediaan (UP) diberikan dari KUN kepada Bendahara Pengeluaran maka pada prinsipnya belum dilakukan pengakuan terhadap belanja dan beban. Untuk belanja baru akan diakui ketika dana tersebut dipertanggungjawabkan yang ditandai dengan terbitnya SP2D GU, sedangkan untuk beban pada prinsipnya langsung akan diakui ketika timbulnya kewajiban untuk melakukan pembayaran, namun untuk penyederhanaan maka beban dalam ilustrasi jurnal berikut akan diakui bersamaan dengan pengakuan belanja dengan pertimbangan bahwa jumlah uang yang terlibat dalam transaksi ini tidak materiil.

Ketika uang persediaan diterima oleh bendahara penerimaan maka K/L akan melakukan pencatatan sbb:

Kas di Bendahara Pengeluaran

xxx

Uang Muka dari KUN

xxx

Sementara di BUN akan mencatat:

Pengeluaran transito

xxx

KUN

xxx

Ketika bendahara pengeluaran melakukan pertanggungjawaban maka jurnal di K/L adalah

Beban….

xxx

Piutang dari KUN

xxx

Sementara jurnal di BUN adalah sbb:

Belanja….

xxx

KUN

xxx

Namun apabila entitas menganggap bahwa pengakuan beban harus segera setelah terjadinya kewajiban dan keluarnya kas dari bendahara pengeluaran maka jurnal yang dibuat adalah sbb

Beban….

xxx

Piutang dari KUN

xxx

(untuk mencatat pengakuan beban)

Uang Muka dari KUN

xxx

Kas di Bendahara Pengeluaran

xxx

(untuk mencatat pengurangan kas di bend pengeluaran untuk belanja)

Konsekuensinya ketika pertanggungjawaban maka K/L tidak melakukan pengakuan beban lagi tapi langsung menambah saldo kas di bendahara pengeluaran dengan jurnal sbb:

Kas di Bendahara Pengeluaran

xxx

Uang Muka dari KUN

xxx

  1. Penerimaan kembali belanja dan beban

Dengan menggunakan analogi pada pengembalian pendapatan maka menurut hemat penulis, dengan mempertimbangkan cost benefit dan materialitas, maka untuk pengembalian belanja ini sebaiknya diakui (dan dijurnal) dengan berdasarkan pada basis kas sehingga pengembalian baru akan dicatat ketika sudah diterima di KUN hal ini selaras dengan redaksional yang digunakan pada draft akrual PSAP yang menggunakan terminologi “diterima” yang berarti bahwa dasar yang dipakai adalah diterima dalam bentuk kas.

Jurnal apabila pengembalian pada periode yang sama adalah (di K/L):

Piutang dari KUN

xxx

Beban….

xxx

Sementara jurnal di BUN adalah:

KUN

xxx

Belanja….

xxx

Jurnal apabila pengembalian pada periode yang berbeda adalah (di K/L):

Utang Kepada KUN

xxx

Pendapatan lain-lain-LO

xxx

Sementara jurnal di BUN

KUN

xxx

Pendapatan-LRA

xxx

4. Akuntansi Penerimaan Pembiayaan

Secara akrual utang diakui ketika kemungkinan besar akan terjadi arus keluar sumber daya di masa datang sebagai akibat adanya transaksi di masa lalu. Untuk konteks pemerintah, ketika perjanjian pinjaman ditandatangani maka seketika itu pula harus ada pengakuan utang di K/L dengan jurnal sbb:

Piutang penerimaan utang LN

xxx

Utang LN

xxx

Akun “Piutang penerimaan utang LN” merupakan akun aset/piutang yang mencerminkan bahwa ketika perjanjian pinjaman ditandatangani, pemerintah disamping mengakui adanya kewajiban juga harus mengakui adanya hak untuk menerima utang tersebut dalam bentuk kas.

Ketika utang tersebut terealisasi maka K/L akan melakukan pencatatan sbb:

Utang Kepada KUN

xxx

Piutang penerimaan utang LN

xxx

Sementara di BUN akan dilakukan jurnal sbb:

KUN

xxx

Penerimaan Pinjaman

xxx

5. Akuntansi Pengeluaran Pembiayaan

Sesuai dengan draft akrual PSAP nomor 6 maka pengakuan investasi sebagai salah satu contoh dari pengeluaran pembiayaan diakui ketika adanya transaksi pertukaran atau pembelian yang dalam hal ini ditandai dengan keluarnya kas dari KUN. Sehingga ketika pemerintah melakukan pengeluaran pembiayaan (dalam hal ini pembelian investasi) maka di K/L akan dicatat sbb:

Investasi jangka panjang pemerintah

xxx

Piutang dari KUN

xxx

Sementara di BUN akan dicatat:

Pengeluaran Penyertaan Modal-LRA

xxx

KUN

xxx

6. Akuntansi untuk Hibah

Akuntansi untuk hibah mempunyai karakteristik tersendiri dalam akuntansi pemerintah apalagi jika menggunakan basis akrual. Ketika pemerintah menerima hibah (contohnya dalam bentuk aset tetap) maka K/L akan melakukan penjurnalan sbb:

Aset Tetap………..

xxx

Pendapatan Hibah-LO

xxx

Dalam hal ini muncul masalah baru karena transaksi untuk hibah harus tercatat dalam laporan realisasi anggaran sebagai bagian dari pendapatan-LRA dan sekaligus sebagai belanja modal sementara di sisi lain jurnal di atas hanya akan menghasilkan neraca dan LO. Untuk mengatasi masalah ini maka akun utang kepada KUN harus didebit bersamaan dengan pengkreditan akun piutang dari KUN sbb:

Utang kepada KUN

xxx

Piutang dari KUN

xxx

Pada saat yang bersamaan dengan pencatatan jurnal tadi maka di BUN akan mencatat jurnal sbb:

Belanja Modal…..

xxx

Pendapatan Hibah-LRA

xxx

7. Jurnal Penutup

Untuk melakukan penutupan terhadap akun-akun nominal maka dibuatkan jurnal berikut (asumsi pendapatan-LO lebih besar daripada beban):

Pendapatan-LO

xxx

Ekuitas Dana

xxx

Beban

xxx

Sementara itu apabila realisasi penerimaan pendapatan lebih kecil daripada yang dianggarkan maka jurnal penutup untuk akun utang kepada KUN sbb (berlaku sebaliknya jika terjadi kondisi sebaliknya):

Utang kepada KUN

xxx

Ekuitas Dana-Pendapatan LRA

xxx

Apabila realisasi belanja lebih kecil daripada yang dianggarkan maka jurnal penutupnya adalah sbb (berlaku sebaliknya jika terjadi kondisi sebaliknya):

Ekuitas Dana-Belanja

xxx

Piutang dari KUN

xxx

8. Akuntansi Persediaan

Ketika pemerintah melakukan pembelian persediaan maka pencatatannya adalah sbb (di K/L)

Persediaan

xxx

Piutang dari KUN

xxx

Sementara di BUN akan dicatat:

Belanja

xxx

KUN

xxx

Sesuai dengan draft akrual PSAP nomor 5 maka metode yang digunakan untuk mengakui beban persediaan adalah metode periodik dimana setiap akhir tahun akan dihitung berapa persediaan yang tersisa, sehingga jurnal untuk akhir tahun (di K/L):

Beban Persediaan

xxx

Persediaan

xxx

Jumlah yang dijurnal pada jurnal di atas adalah sebesar jumlah persediaan yang digunakan selama satu periode tersebut sehingga di neraca nantinya akan muncul persediaan yang masih tersisa.

9. Akuntansi Investasi

Untuk lebih memahami akuntansi untuk investasi maka akan dijelaskan dalam bentuk ilustrasi kasus. Pada tanggal 1 Januari 2009 pemerintah membeli 5% saham PT X senilai 50 jt. Pada tanggal 1 November 2009 PT X mengumumkan laba sebesar 30 jt dan deviden tunai total sebesar 20 jt dan dibayarkan pada 1 februari 2010 maka jurnal akrualnya (di K/L) adalah sebagai berikut

1 Jan 09

Penyertaan Modal Pemerintah

50 jt

Piutang dari KUN

50 jt

(mencatat pembelian investasi)

1 Nov 09

Piutang Deviden

1 jt

Pendapatan bagian pemerintah atas laba

1 jt

(Mencatat pendapatan deviden yang diumumkan namun untuk pengumuman laba tida terpengaruh)
1 Feb 2010

Utang kepada KUN

1 jt

Piutang Deviden

1 jt

(mencatat penerimaan deviden tunai 5% x 20 jt)

Namun apabila kepemilikan pada soal di atas bukan 5% melainkan 25% maka ada sedikit perbedaan jurnal terutama untuk jurnal tanggal 1 Nov 09 dan 1 Feb 2010 (jurnal untuk 1 Jan 09 tetap sama)

1 Nov 09

Penyertaan Modal Pemerintah

7,5 jt

Pendapatan bagian pemerintah atas laba

7,5 jt

(mencatat bagian atas laba PT X sebesar 25% x 30 jt berdasarkan metode ekuitas)
Piutang Deviden

1 jt

Penyertaan Modal Pemerintah

1 jt

(Mencatat pendapatan deviden yang diumumkan yang mengurangi investasi)
1 Feb 2010

Utang kepada KUN

1 jt

Piutang Deviden

1 jt

(mencatat penerimaan deviden tunai 5% x 20 jt)

Untuk kasus apabila terjadi pelepasan investasi yang harga jualnya berbeda dengan nilai tercatatnya (carrying value) maka harus diakui keuntungan/kerugian yang timbul melalui perkiraan Surplus Penjualan Aset Nonlancar atau Defisit Penjualan Aset Nonlancar. Jurnalnya kira-kira akan berbentuk sbb:

Utang kepada KUN

xxx

Defisit Penjualan Aset Nonlancar (jika rugi)

xxx

Surplus Penjualan Aset Nonlancar (jika untung)

xxx

Investasi…(sesuai jenisnya)

xxx

10. Akuntansi Aset Tetap

Jurnal untuk perolehan aset tetap telah dijelaskan pada bagian sebelumnya mengenai akuntansi beban/belanja pada bagian pencatatan belanja modal. Salah satu hal penting yang membedakan basis kas dengan akrual adalah pengakuan beban penyusutan. Jurnal untuk pengakuan beban penyusutan pada basis akrual adalah sbb:

Beban Penyusutan

xxx

Akumulasi Penyusutan-……

xxx

Dalam hal terjadi penilaian kembali aset tetap maka sesuai dengan draft akrual PSAP nomor 7, selisih antara nilai revaluasi dengan nilai tercatat aset tetap dibukukan dalam akun ekuitas dana sehingga jurnalnya adalah sebagai berikut (jika nilai revaluasi lebih besar dari nilai tercatat, jika tidak maka jurnal ini dibalik) :

Aset Tetap………..

xxx

Ekuitas Dana

xxx

Apabila suatu aset tetap dihentikan dari penggunaan aktif pemerintah dan tidak memenuhi definisi aset tetap maka harus dipindahkan ke pos aset lainnya sesuai dengan nilai tercatatnya dengan jurnal sebagai berikut:

Aset Lainnya

xxx

Aset Tetap…..

xxx

Jika aset tetap telah dilepaskan atau secara permanen dihentikan penggunaannya dan tidak ada menfaat ekonomi maka aset tetap tersebut harus dihapuskan dan ada pengakuan kerugian di LO dengan jurnal sbb:

Defisit dari Kegiatan Operasional Lainnya

xxx

Aset Tetap…..

xxx

  1. Akuntansi Kewajiban

Untuk memudahkan maka digunakan ilustrasi soal sebagai berikut:

Pemerintah menerbitkan obligasi ritel sebanyak 1 jt lembar dengan harga Rp 1 jt/lembar. Pada tanggal 2 Januari 2006 hasil penjualan bersih obligasi ini adalah sebesar Rp 1,1 T dan jatuh tempo pada 2 Januari 2011, metode amortisasinya garis lurus dan bunga dibayarkan setiap 1 Juli dan 1 Januari dengan tingkat bunga per tahun 10%. Jurnalnya adalah sebagai berikut (di K/L)

2 Jan 2006

Hutang kepada KUN

1,1 T

Obligasi

1T

Premium Obligasi

0,1 T

1 Juli 2006

Beban Bunga

50 M

Piutang Kepada KUN

50 M

31 Desember 2006

Beban Bunga

50 M

Hutang Bunga

50 M

31 Desember 2006

Premium Obligasi

20 M

Beban Bunga

20 M

(untuk mencatat amortisasi premium sebesar 0,1 T/5tahun

Dengan jurnal di atas maka nilai buku obligasi per 1 Januari 2007 adalah sebesar 1,08T. Apabila pada tanggal 1 Januari 2007 obligasi itu ditebus dengan harga 1,1T maka akan diakui kerugian dan jurnalnya adalah sbb (di K/L):

1 Januari 2007

Obligasi

1 T

Premium Obligasi

0,8 T

Defisit Penyelesaian Kewajiban Jangka Panjang

0,2 T

Piutang dari KUN

1,1 T

About these ads

4 Responses to “Kajian Jurnal Akuntansi Pemerintah Berbasis Akrual”

  1. restu said

    pak Wayan
    dengan terbitnya PP 71 2010, bagamana aplikasi full accrualsnya
    mohon konfirmasinya

  2. Hero said

    Pak Wayan,

    Nah sekarang yang menjadi permasalahan bagaimana penerapan full accrualnya bila dikombinasikan dalam pemakaian SP2D??
    Karena jurnal akuntansi yang sudah saklek di Pemerintah Daerah bila ada sp2d, maka jurnal yang terbentuk adalah Belanja pada Kas. bagaimana bila beban listrik yang sudah ada tagihannya di akhir tahun tetapi belum dibayar menggunakan sp2d. bagaimana pengakuannya dan pembebanannya…..
    Mohon balasannya Pak Wayan.

    Salam….

  3. risti said

    Kenapa belanja modal oleh K/L diakui sebagai piutang dari KUN? apakah tidak ada pengakuan beban atas belanja modal tersebut oleh K/L maupun BUN? mohon konfirmasinya

    • I Wayan Agus Eka said

      Mohon maaf Bu, kebetulan selama beberapa tahun terakhir saya tidak lagi berkecimpung di bidang akuntansi pemerintah, jadi sudah tidak update lagi dengan beberapa perkembangan terakhir. Sekali lagi mohon maaf.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: